Kembali Ke Index Video


Peringatan Satu Abad Berdirinya Masjid Darunna 'iem. Warga Kleben Gelar Acara Syukuran

Selasa, 10 Februari 2026 | 22:09 WIB
Dibaca: 40
Peringatan Satu Abad Berdirinya Masjid Darunna 'iem. Warga Kleben Gelar Acara Syukuran
Warga Kleben, Keceme, Bejen usai mengikuti kirab budaya nampak bahagia saat berebut gunungan.

Sleman - Pastvnews.com, Dalam rangka memperingati satu abad ( 100 Tahun ) Masjid Darunna'iem masyarakat Kleben  menggelar rangkaian kegiatan sebagai wujud syukur .

 

Acara diawali dengan upacara peringatan satu abad Masjid Darunna'iem, kemudian dianjutkan kirab budaya yang diikuti oleh ribuan peserta kirab dari 3 padukuhan (Kleben, Keceme, Bejen) Caturharjo, Sleman mengelilingi padukuhan pada Minggu 8 Februari 2026.

 

Mengenakan pakaian tradisional sambil membawa 5 gunungan dari hasil bumi berupa sayuran dan buah - buahan untuk diperebutkan kepada warga yang mengikuti kirab budaya dan berbagai simbol keberkahan.

 

Malam berikutnya, Senin 9 Februari 2026, halaman masjid akan dipenuhi lantunan shalawat dalam Festival Hadroh.

 

Tabuhan rebana menjadi cara generasi muda merawat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus memeriahkan milad ke-100 tahun Darunna’iem.

 

Nuansa budaya terus hadir melalui pertunjukan Tari Kubro pada Selasa malam 10 Februari 2026 serta kesenian Badui pada Rabu malam 11 Februari 2026.

 

Dua kesenian bernapaskan dakwah tersebut menjadi penanda bahwa syiar Islam di Kleben sejak lama berjalan beriringan dengan tradisi.

 

Rangkaian peringatan akan ditutup pada Sabtu 14 Februari 2026 lewat semakan Alquran dan pengajian akbar bersama kiai Ahmad Zainal Mubarok.

 

Imam Masjid Darunna’iem, Nur Jamil Dimyati (69), mengatakan dirinya merupakan penerus generasi ketiga yang mendapat amanah merawat masjid.

 

Meski catatan tertulis tidak banyak ditemukan, ia bersama para sesepuh terus berupaya menelusuri jejak sejarahnya.

 

“Dokumen memang terbatas. Tapi dari cerita para leluhur, kami yakin masjid ini sudah menjadi pusat kehidupan warga sejak dulu,” ujarnya saat ditemui, Minggu 8 Februari 2026.

 

Sesepuh setempat, Sudjito (79) menambahkan, berdasarkan kisah turun-temurun, dahulu terdapat masjid yang dikenal sebagai masjid tiban.

 

Bentuknya menyerupai masjid-masjid Pathok Negoro, beratap ijuk dengan ukuran sekitar 9 x 9 meter. Di kawasan itu juga terdapat sumur tiban dan makam kuno.

 

 

“Cerita yang kami terima, pada masa sebelumnya konon tempat ini pernah pula disinggahi Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya,” kata Sudjito.

 

Seiring perjalanan waktu, bangunan masjid mengalami sejumlah pembaruan.

 

Namun beberapa bagian lama tetap dipertahankan. Terutama sokoguru pada joglo yang menjadi penopang utama.

 

“Masjid Darunna’iem dahulu dibangun dengan penuh gotong royong. Materialnya seadanya, tapi semangat kebersamaannya luar biasa,” ungkap Nur.

 

 

Baginya, masjid bukan sekadar tempat menunaikan salat.

 

Dari sana warga belajar mengaji, bermusyawarah, hingga membicarakan masa depan kampung.

 

“Dulu orang datang membawa kayu, bambu. Siapa punya apa disumbangkan. Masjid ini menyatukan warga lintas generasi,” ujarnya.

 

Momentum itu diharapkan menjadi pertemuan antara rasa syukur atas perjalanan satu abad dan doa untuk keberkahan masa depan.

 

 

“Semoga masjid ini tetap menjadi pusat pembinaan akhlak dan perekat persaudaraan warga selamanya,” harap Nur Jamil.

 

"Mariah kita memakmurkan masjid ini agar kita bisa membuktikan bahwa kita berbakti kepada orang tua.

 

Satu diantara kita berbakti kepada orang tua kita melanjutkan apa yang menjadi rintisan- rintisan perjuangan orang tua, pesan Nur Jamil. (Mar)

 




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi