Breaking:

Kembali Ke Index Video


Dentuman Halilintar Penuh Doa Pesona Pecutan Bopo di Kuliner Senja AWT Meriah

Sabtu, 4 Juli 2026 | 21:11 WIB
Dibaca: 9
Dentuman Halilintar Penuh Doa Pesona Pecutan Bopo di Kuliner Senja AWT Meriah
Cak dut dan rekan pemain cemeti sepanjang 8 meter, yang kini menjadi salah satu kebanggaan seni pertunjukan daerah.

Banyuwangi Jawa Timur PasTvNews.Com— Semarak Kuliner Senja AWT pada Jumat (3 Juli 2026) diwarnai kehadiran atraksi yang memukau sekaligus sarat makna.

Saat suasana berlangsung, tiba-tiba terdengar bunyi membelah angin yang seolah dentuman halilintar, itulah Pecutan Bopo, seni main cemeti khas yang kini mulai mencuri perhatian sebagai wajah baru budaya Banyuwangi.

Seni ini lahir dari tangan dan gagasan Cak Ndut Arweter, pelopor sekaligus seniman pertama yang mengembangkannya di Banyuwangi.

Sebagai penggiat lama di dunia Jaranan dan anggota komunitas D Jabang Bayi (Dulur Jaranan Barong Banyuwangi), ia merasa cemeti yang umum digunakan sepanjang 1–1,5 meter masih kurang maksimal.

Berkat ketekunan berlatih, ia pun berhasil menciptakan dan memainkan cemeti berukuran 4 hingga 5 meter sesuatu yang butuh keseimbangan dan kendali diri luar biasa.

Ilmu ini tak ia simpan sendiri. Cak Ndut kemudian melatih Rouv Bedewang dan Dodot Mangir, seniman Jaranan dari wilayah Bedewang dan Mangir. Hasilnya, kini Rouv bahkan mampu membuat dan mengendalikan cemeti sepanjang 8 meter, yang kini menjadi salah satu kebanggaan seni pertunjukan daerah.

Bagi para seniman ini, cemeti panjang itu bukan sekadar alat panggung, melainkan benda yang dihormati layaknya pusaka. Sebelum tampil, selalu ada penghormatan khusus. "Kami selalu mengasapi cemeti ini dengan asap dupa sebelum digunakan.

Tujuannya agar kami selamat saat bertindak, dan tidak ada satu pun penonton yang terluka," ujar Cak Ndut Arweter.

Rouv Bedewang menambahkan, setiap gerakan dan bunyi yang dihasilkan bukan untuk pamer kekuatan.

"Di mata kami, cemeti ini adalah pusaka yang harus dirawat dan dijaga kehormatannya," tegasnya.

Dentuman keras yang memecah udara pun memiliki maksud luhur.

"Suara lecutan itu adalah wujud doa dan ikhtiar kami untuk menolak segala bala. Kami memohon agar acara ini senantiasa aman, terhindar dari gangguan apa pun baik yang tampak mata maupun yang tidak kasat mata," jelas Cak Ndut.

Bahkan di luar jadwal tampil, jika dirasakan suasana kurang menentramkan, mereka akan melecutkan cemeti ke udara sebagai upaya menjaga keselamatan lingkungan sekitar.

Di penghujung kegiatan, Cak Ndut berharap warisan ini tak berhenti di sini. "Semoga Pecutan Bopo terus bertumbuh, mendapatkan penerus yang berdedikasi, dan kelak diakui sebagai salah satu ikon yang membanggakan Banyuwangi," harapnya. (MSP)




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi