Musyawarah senopati nusantara tampilkan keris koleksi zaman kerajaan mataram kuno
Sabtu, 25 Februari 2017 | 07:03 WIBBantul media pastvnews.com, warta lintas sosial pameran budaya keris dalam berbagai ragam merupakan bagian penting dalam tosan aji, seperti halnya batik yang menjadi andalan bangsa.
Keris yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai “Karya Agung Budaya Lisan dan Tak benda Warisan Manusia, semestinya masyarakat Perkerisan Indonesia tidak perlu gamang untuk menetapkan tanggal pengakuan sebagai Hari Keris Nasional.
Karena sejak dikukuhkan sebagai warisan mahakarya dunia non bendawi, ada nilai takar tehnologi dan estetik. Pengakuan tersebut hendaknya, mendorong Pemerintah dan masyarakat pecinta keris melestarikannya.

FOTO BERSMA GUBERNUR DIY DALAM MJUSYWARAH NUSANATAR PERKERISSAN
Sebab dukungan komunitas, pelestarian,edukasi menjadi dasar pertimbangan UNESCO mengakui sebagai warisan budaya dunia.
Demikian sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat pembukaan Musyawarah Senopati Nusantara (MAS) 2017 yang berlangsung di Pyramid, Jalan Parangtritis, Yogyakarta.(24/2).
Hadir dalama Musyawarah tersebut, Bupati Bantul Dinas ebuayaan dan Pariwisata DIY,
Umar Priyono serta masyarakat pecintaa keris paguyuban tosan aji seluruh Indonnesia, tokoh lembaga adat.
Menurutnya, keris erat kaitannya dengan kultur Jawa, karena menyimpan berbagai keunggulan teknologi nenek moyang.
Keris dalam wujud awalnya paling sederhana berupa wesi – buda” sudah dikenal sejak tahun 700 an M saat Mataram Kuno.
Dalam dunia perkerisan, dikenal konvensi bapa- tapa,anak nampa, putu kelu, buyut katut, canggah-kesrambah.
Manusia Jawa merumuskan sebuah doa yang diwujudkan dalam sebentuk keris. Doa diwujudkan alam laku melalui tapa, mati raga, tapa bisu dsb.
Laku prihatin, dari seorang empu pemesan keris tidak hanya dua hari, bahkan sampai enam bulan. Tidak mengherankan jika keris yang diciptakan hebat.
I Akan mampukah keris menebar ganda arum - matarum, yang dilambari ulat manis, kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembah laku utama.Terkadang banyak disalah pahamkan, oleh para pecinta keris.
Keris diminyaki dengan wewangian, padahal tanpa sikap ganda arum-metarum, keris setangguh apapun tidak akan memiliki arti apa-apa bagi pemiliknya,” tandas Sultan.
Sementara itu, MM Hidayat selaku Ketua Formatur dalam laporannya, menyatakan Musyawarah Agung Senopati Nusantara mengambil tema, “ Kaum Muda Kebangkitan Tosan aji Nusantara Bergerak dan Bekerja demi Lestarinya Tosan Aji Nusantara.
Hidayat, berharap dengan adanya musyawarah dan pameran tosan aji secara nasional, dan menjadi jembatan penghubung kerja sama sinergis pemerintah dalam pelestarian tosan aji Dalam pameran tersebut, terdapat peningkatan jumlah paguyuban pecinta keris, penikmat kolektor bertambah demikian juga pelaku tosan aji tumbuh pesat.
Dari pertumbuhan, tercatat 221 perajin perabot keris, beberapa empu di Surakarta, terdapat puluhan.
Selain itu, masih terdapat ribuan kolektor, penikmat tosan aji, dan ukiran yang tersebar di 3 kecamatan, Bali, Sulawesi, Lombok, Sumatera empu,pengrajin pendok serta warangka. Di Sumenep, Madura ada 648 empu,pande pengrajin. san/njar

Video Terkait
- Pameran dan Musyawarah Agung Perkerisan Berakhir Ini Pengurusnya Hingga Tahun 2021
- Rekapitulasi KPU Jogja Pasca Pilkada 2017 Massa FPDI Protes
- Surat Edaran Mendikbud Tentang Ujian Nasional Turun Gunungkidul Berupaya Laksanakan UNBK Dengan IT
- Gunungkidul launching pergub Jaga warga dalam upaya untuk melakukan kewaspadaan kesatuan bangsa
- KEBAKARAN TOKO BATIK KERUGIAN RATUSAN JUTA RUPIAH
- Apa Itu BPJS ?
- Pilkada Kota-Jogja 2017 Kubu Paslon Haryadi Heroe Purwadi Unggul Di 7 Kecamatan
- Kunci sukses mengelola desa wisata ada di management
- Replika Samurai Kerajaan Cirebon di Buat di Kajar
- Malioboro Dulu -Malioboro Sekarang ‘PKL Tak Boleh Membuang Limbah Cucian Piring
- Malioboro Yang Dulu -Malioboro Sekarang ‘Wajah Baru di Buru Orang
- Proyek Jembatan Spektakuler di Gembyong Ngoro-oro Patuk Gunungkidul Menghubungkan Gayamharjo Prambanan 2018 Bisa di Pakai
- UNDP, Dan Dinas Kehutanan Adakan Workshop Bersama Jurnalis
- Gubernur Jambi dan Istri Menyaksikan GMT memakai pakaian Adat Khas Jambi.




