Sekilas Kampung Pitu, Nglanggeran
Senin, 31 Oktober 2016 | 07:32 WIBPatuk-Pastvnews.com-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi dan pantangan, salah satunnya di di Kampung pitu yang terletak di puncak Gunung Nglanggeran.
Kampung pitu ini menjadi satu deret serta mendiami kawasan Pegunungan Nglanggeran, tepatnya di Dusun Nglanggeran wetan,RT 019/004, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk,, Gunungkidul.
Kampung pitu yang terletak dipuncak gunung ini hanya ditempati oleh 7 Kepala Keluarga sehingga dinamakan Kampung pitu. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat.
Untuk mencapai puncak gunung yang ditempati warga Kampung pitu ini memang cukup melelahkan, jarak tempuh dari pusat wisata gunung Api Purba kurang lebih 10 Km dengan jalan melingkar melewati Wilayah Terbah.
Awak media pastvnews.com, yang menyusuri jalan yang menanjak, terjal, dan banyak pohon kanan kiri yang rimbun, membuat bulu kuduk berdiri kalau tidak terbiasa. Sebagian jalan cor yang berlumut dan licin membuat ekstra hati-hati.
Sesampainya dipuncak, Kampung pitu layaknya kampong-kampung lainya, ada persawahan, ada semacam mushola untuk tempat peribadatan, rumahnya juga sudah bagus-bagus walaupun dipuncak gunung dan terisolir.
Kehidupan masyarakatnya rata-rata bercocok tanam dan berdagang, tidak ada yang mencolok dan aneh kelihatanya di Kampung pitu tersebut. Tetapi dibalik itu ada cerita sejarah yang unik yang sampai sekarang masih dipercayai oleh warga Kampung Pitu.
Nama aslinya Dusun Tlogo Planggeran karena dusun itu tidak boleh ditempati lebih dari 7 KK dan tidak boleh kurang dari 7 KK, oleh warga masyarakat setempat menamakan Kampung pitu.
Menurut cerita sesepuh setempat, Mbah Rejo Dimulyo, 99 tahun, menceritakan, awalya mulanya Eyang buyutnya Mbah Rejo Dimulyo yang bernama Iro Dikromomo mendapatkan wangsit dari dewo (malaikat) kalau bumi di desa Tlogo Planggeran yang sekarang disebut Kampung pitu itu tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang ditempati dari 7 KK.
“Waktu itu Eyang buyut saya (Mbah Iro Dikromo) sudah mendapatkan wangsit (petunjuk) dari dewa, kalau tempat ini memang tidak boleh ditempati lebih dari 7 KK, kalau kurang ya, harus ditambahi supaya genap jadi 7 KK.
Ketika pandito (ahli kebatinan) yang mengawal Sri Sultan Hamengku Buono IX kesini bilang, kalau yang kuat menempati Tlogo Planggeran adalah turunanya Mbah Iro Kromo. Maka sampai sekarang yang kuat menempati disini hanya anak turunya Eyang saya itu,” cerita Mbah Rejo Dimulyo yang masih keturunan Mbah Iro Dikromo. 'paparnya W. Joko Narendro
.

Video Terkait
- Bupati Bantul Lantik 22 Lurah Desa 'Bupati Telah Tanda Tangani Kontrak Dengan KPK Untuk Berantas Korupsi
- Inilah 3 Unit Bus 6 Truk Pemadam Kebakaran Sitaan KPK Yang di Hibahkan Ke Pemkab Bantul
- Monjali 30 menit di guyur hujan deras 10 pocong muncul dari dalam makam
- Pemerintah Pastikan Tidak Ada Impor Beras
- Perangi Pungli, Pengkab Gunungkidul Tertinggal Selangkah Dengan KPP Pratama
- KUDA LUMPING PUTRI BANYAK DI MINAT REMAJA DAN BUNDA BUNDA
- Kayu Kinah Gadung Wulung Pusaka Kraton, Orang Mati Suri Di Olesi Minyak Cahyo Hidup Kembali
- Keunikan Adat Budaya Sampai Tlogo Mardhido Di Kampung Pitu Nglanggeran Gunungkidul
- MUSEUM PURA PAKUALAMAN
- Revitasisasi Bangunan SMA Negeri 2 Playen Diduga Terselip Permainan ?
- Kirab Budaya Kalisong Sambil Melihat View Gunung Api Purba
- Batu Selo Purbo Nawing Salam Baran Patuk Hiiii....Mirip Muka Manusia Menyeramkan
- Selo Purbo Nawing Monumen Lelehan Gunungapi Purba Yang Tak Pernah Bergeming '
- Destinasi Nawing Patuk Gunungkidul Inspirasi Wisata Alam Yang Kian Menggoda





