Kembali Ke Index Video


Kayu Kinah Gadung Wulung Pusaka Kraton, Orang Mati Suri Di Olesi Minyak Cahyo Hidup Kembali

Selasa, 1 November 2016 | 08:57 WIB
Dibaca: 7413
Kayu Kinah Gadung Wulung  Pusaka Kraton, Orang Mati Suri Di Olesi Minyak Cahyo Hidup Kembali
MBAH REJO DIMULYO PINI SEPUH DI KAMPUNG PITU

Patuk-media Pastvnews.com kabar yang satu ini masih terkait dengan kabar kampung 7 ( pitu) dio Puncuk timur Gunung Nglanggeran, nah apa yang masih menarik sebagai topik yuk kita simak  bahwa sisi yang menarik di Kampung Pitu tersebut adalah  adanya mitis  Kayu Kinah Gadung Wulung.

Masyarakat awampun tidak mengetahui kayu apa itu ? Namun bagi masyarakat di Kampung Pitu, kayu kinah gadung wulung sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga mereka. Karena kayu kinah gadung wulung tersebut merupakan pusakanya kraton yang pada jaman dulu tumbuh di kampung tersebut.

Mbah Iro Dikromo adalah orang pertama kali yang merawat kayu kinah gadung wulung tersebut yang konon berjumlah 5 pohon. Hal ini diceritakan oleh buyutnya Mbah Iro Dikromo yang  bernama Mbah Rejo Dimulyo, hingga sampai sekarang sebagai sesepuh meneruskan jejak dan langkahnya Mbah Iro Dikromo untuk hidup di Kampung Pitu.

Mbah Rejo Dimulyo sendiri sampai sekarang   sudah berumur hampir 100 tahun,  walaupun kurang enak badan dengan pendengaranya yang sudah kurang jelas dan sudah agak lupa karena termakan usia, tetapi ketika menjawab beragam pertanyaan wartawan pastvnews.com, Dirinya masih  mampu menceritakan sejarah yang Ia  ketahui pada jaman Eyang buyutnya (Mbah Iro Dikromo) semasa masih ada.

“Kayu kinah gadung wulung itu memang bener ada, karena yang merawat setiap harinya Eyang buyut saya Mbah Iro Dikromo. Waktu itu jumlahnya kayu kinah gadung wulung itu  ada 5 pohon,”cerita Mbah Rejo Dimulyo  30 oktober 2016 kepada pastvnews.com,

Kayu kinah gadung wulung itu, lanjut Rejo Dimulyo, adalah kayu yang sangat langka karena pusakanya Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Daunya  bisa dibuat candu yang nomor satu, buahnya bisa dibuat minyak cahyo.

 Oleh karena itu ketika pohon tersebut hilang, kraton jadi geger membicarakan kayu kinah gadung wulung ini. Pada saat pohon itu masih ada, setiap hari dibersihkan oleh Mbah Iro Dikromo, pagi sore dibersihkan, disuatu ketika entah kenapa, sore disapu paginya sudah tidak ada sampai ke akar-akarnya, termasuk gadung wulung hilang.

“Kayu kinah gadung wulung itu sangat langka, dan itu jimatnya kraton, karena manfaat daunya saja kalau dibuat candu yang nomor satu, buahnya bisa dibuat minyak cahyo, minyak cahyo memiliki kasiat jika itu di oleskan kepada orang meninggal saja kalau meninggalnya belum waktunya karena kesrakat, (mati suri) dengan diolesi minyak cahyo bisa hidup kembali ‘Papar simbah tersebut,

Makanya dengan sewaktu pohon tersebut hilang, kraton jadi geger, Kanjeng Sinuwun kaping IX sampai “tindak mriki  didereke poro pendito kaleh kerabat kraton kathah sanget,” tutur Mbah Rejo Dimulyo yang terlihat  serius dalam menceritakan ragam kasiat kayu tersebut.

Pada jamanya Sri Sultan Hamengku Buwono ke-IX beliau sering datang ke Kampung Pitu tersebut dengan berjalan kaki, menuju rumah Mbah Iro Dikromo, walaupun pusakanya sudah murco.

Namun demikian menurut pendito (spiritualnya Kanjeng Sinuwun) waktu itu, secara gaibnya masih mendiami bumi Kampong Pitu. Sehingga Kampung Pitu sampai sekarang masih gawat keliwat-liwat, siapa yang melanggar pasti akan menemui akibatnya, pungkas Mbah Rejo Dimulyo. W. Joko Narendro




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi