Kembali Ke Index Video


KELANGKAAN GAS ELPIJI DI DESA KETAPANG, TERMINAL BERDIRI KOKOH SISTEM DISTRIBUSI DIPERTANYAKAN

Minggu, 29 Maret 2026 | 20:18 WIB
Dibaca: 40
KELANGKAAN GAS ELPIJI DI DESA KETAPANG, TERMINAL BERDIRI KOKOH SISTEM DISTRIBUSI DIPERTANYAKAN
gas melon foto pastvnews.com,

BANYUWANGI - PASTVNEWS.COM - Keberadaan terminal pengisian gas Elpiji di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, seharusnya menjadi jaminan pasokan yang lancar bagi warga sekitar.

Namun, kurang dari dua minggu menjelang Lebaran, kondisi yang terjadi justru sebaliknya warga bahkan kesulitan mendapatkan gas subsidi sedikitpun,

sebuah realitas yang mengungkapkan kekhawatiran serius terkait kelancaran dan integritas sistem distribusi.

Yanto, salah satu warga Desa Ketapang, mengungkapkan kemarahan yang mendalam terkait kondisi ini.

"Terminal ada di depan mata kita, tapi kita dibiarkan kesusahan karena tidak bisa memasak! Ini bukan masalah pasokan, ini masalah yang menyangkut sistem yang mungkin telah terkontaminasi korupsi dan ketidakpedulian pada rakyat.

Apa gunanya infrastruktur besar jika yang dirugikan justru masyarakatnya sendiri ? Jika desa yang menjadi pusat distribusi saja mengalami kelangkaan, berarti seluruh rantai pasokan sudah berada di bawah kendali oknum yang hanya mementingkan kepentingan pribadi!" ucapnya pada hari Minggu (29/3/2026).

Ia menambahkan bahwa telah mengunjungi berbagai toko dan agen gas di desa tersebut, namun semuanya menyatakan stok kosong dan sedang menunggu kiriman.

 Akhirnya, Yanto harus mencari gas hingga ke daerah Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, baru saja mendapatkan pasokan yang dibutuhkan.

Niko, warga yang tinggal tidak jauh dari terminal pengisian, juga mengungkapkan kesalnya atas kebijakan yang dianggap tidak masuk akal.

"Kita bisa melihat sendiri truk-truk gas masuk dan keluar terminal setiap hari, namun barangnya tidak sampai ke pangkalan yang melayani rakyat ! Semua pangkalan kosong, padahal sebelum Lebaran biasanya pasokan selalu melimpah.

Ini jelas ada sesuatu yang tidak beres di baliknya apakah ada yang menimbun stok ? Ataukah ada yang menjual ke luar daerah dengan harga lebih tinggi ?

Sementara kita yang tinggal tepat di lokasi terminal dipinggirkan seperti tidak penting! Sistem sudah terlihat rusak parah, dan rasa keadilan bagi rakyat kecil sepertinya sudah hilang.

 Apakah masyarakat harus kembali bergantung pada minyak tanah seperti zaman dahulu?" tandasnya dengan nada kesal. (MSP)




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi