Kembali Ke Index Video


BPBD Sleman, Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Rawan Bencana Merilis Kegiatan Himbauan

Sabtu, 18 Oktober 2025 | 11:44 WIB
Dibaca: 87
BPBD Sleman, Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Rawan Bencana Merilis Kegiatan Himbauan
Kepala BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, ST.MT

 

Sleman – Pastvnews.com. lintas sosial Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Sleman, R.Haris Martapa, ST. MT kepada awak media Kamis 16 Oktober 2025

menyampaikan, dalam menghadapi musim hujan, BPBD Kabupaten Sleman terus mengoptimalkan berbagai upaya pengurangan risiko bencana khususnya potensi banjir lahar hujan, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

Salah satu fokus utama kami adalah penguatan dan optimalisasi sistem peringatan dini, melalui sistem ini masyarakat bisa mendapatkan informasi cepat dan akurat mengenai potensi bencana sehingga dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini,” ujarnya.

Selain itu, kami juga memperkuat koordinasi dengan BMKG baik dalam pemantauan data cuaca hujan maupun penyampaian informasi prakiraan cuaca. Informasi dari BMKG, kami terjemahkan menjadi peringatan dini di tingkat lokal yang lebih mudah di pahami oleh masyarakat.

Kami juga berkoordinasi dengan instansi terkait, pemerintah desa serta relawan untuk memastikan kesiapsiagaan di lapangan, termasuk kesiapan jalur evakuasi, tempat pengungsian, hingga logistik darurat. Dengan langkah – langkah ini, kami berharap risiko bencana selama musim hujan dapat ditekan seminimal mungkin dan masyarakat bisa merasa lebih aman.

Selanjutnya Haris juga menyampaikan, terdapat 4 program BPBD Kabupaten Sleman dalam upaya peningkatan kapasitas masyarakat menghadapi bencana.

Seluruh Kalurahan telah terbentuk menjadi Kalurahan tangguh bencana, yang mempunyai unit pelaksana penanggulangan bencana yang didukung oleh komunitas relawan setempat untuk melaksanakan kegiatan pra bencana seperti mitigasi bencana, sosialisasi maupun kegiatan siaga darurat seperti mempersiapkan sumberdaya dan pemantauan informasi.

Ia juga menerangkan kami juga telah melakukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), pelatihan fasilitator satuan pendidikan aman bencana dengan dibekali dengan ilmu dan praktek untuk menjadi fasilitator ini diharapkan fasilitator yang dilatih dapat membentuk SPAB secara mandiri yang terdokumentasi dengan baik dan berkelanjutan.

Pembentukan SPAB juga diakhiri dengan simulasi penanganan bencana, agar seluruh warga sekolah dapat mengetahui dan memahami standar operasi dan prosedur tetap pada tahap saat bencana.

Haris menambahkan, BPBD Kabupaten Sleman secara aktif melakukan peningkatan kapasitas komunitas relawan dengan pelatihan dan pemberian bantuan peralatan bagi 70 komunitas relawan. Dan BPBD Kabupaten Sleman, juga membekali 2.481 orang dengan perlindungan jaminan kesehatan BPJS Ketenagakerjaan.

Selain itu, BPBD Kabupaten Sleman telah melakukan kegiatan gladi kesiapsiagaan bencana tanah longsor yang berlokasi di beberapa daerah rawan longsor di Kapanewon/Kecamatan Prambanan dengan tujuan melatih koordinasi antara pemangku wilayah di Padukuhan, Kalurahan, Kapanewon/Kecamatan, dan Kabupaten.

Dalam menghadapi musim penghujan, BPBD Kabupaten Sleman telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana berdasarkan kajian risiko yang sudah disusun. Dari hasil kajian tersebut, terdapat beberapa ancaman yang perlu diantisipasi bersama yaitu:

"Potensi banjir lahar hujan di aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Berdasarkan data, terdapat 54 Kalurahan di 15 Kapanewon/Kecamatan yang dilewati aliran sungai tersebut sehingga wilayah ini menjadi prioritas pengawasan dan kewaspadaan saat intensitas hujan tinggi.

"Ancaman tanah longsor terutama di wilayah perbukitan seperti Kapanewon/Kecamatan Prambanan, Turi, Pakem, dan Cangkringan. Potensi longsor ini, meliputi 14 Kalurahan di 17 Kapanewon/Kecamatan yang perlu mendapat perhatian khusus, baik dalam aspek peringatan dini maupun kesiapsiagaan masyarakat.

"Potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi di seluruh Kabupaten Sleman. Kami mencatat ada 44 Kalurahan dengan tingkat risiko tinggi, terutama di wilayah padat penduduk atau memiliki lahan produktif luas sehingga kerentanannya juga lebih besar,” tutupnya (Mar)




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi