Breaking:

Kembali Ke Index Video


Membangun Media Berkelanjutan Di Era Digital’ Tanamkan kredibilitas dan Kepercayaan Public Jangan Kejar Kecepatan

Kamis, 9 Juli 2026 | 09:12 WIB
Dibaca: 52
Membangun Media Berkelanjutan Di Era Digital’ Tanamkan kredibilitas dan Kepercayaan Public Jangan Kejar Kecepatan
Narasumber Workshop Membangun Media Lokal Berkelanjutan

Bantul - media pastvnews.com kabat yang satu ini sangat menarik untuk kisata simka karena membjas perkembangan industri media dan perkembangan berita di medsos dalam era teknologi digital yang telah mengubah wajah industri media secara drastic hingga mempengaruhi kehidupan social.

Di tengah persaingan media yang semakin ketat dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi, media lokal dituntut tidak hanya mengejar kecepatan berita, tetapi juga mampu menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik.

Pesan yang di bahas dalam Workshop Membangun Media Lokal Berkelanjutan yang menghadirkan sejumlah praktisi dan pemangku kepentingan industri media menjadi topiq utama

Kegiatan ini menyoroti tantangan sekaligus strategi agar media lokal tetap relevan di tengah derasnya arus informasi digital yang diselenggarakan di Isvara Riverside pada hari Rabu 8 Juli 2026.

Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, mengatakan perubahan yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, disrupsi digital tidak hanya memengaruhi industri media, tetapi juga hampir seluruh sektor kehidupan. "Perubahan yang kita hadapi sangat signifikan. Teknologi bukan hanya mendisrupsi media, tetapi juga berbagai sektor lainnya," ujarnya.

Farida menjelaskan, kompetisi media saat ini semakin ketat dan berat. Jumlah platform informasi terus bertambah,sedang sumber pendapatan industri media tidak mengalami pertumbuhan yang sebanding.

Akibatnya, semakin banyak pelaku yang memperebutkan pangsa pasar yang sama. Meki demikian kata dia,tantangan media saat ini bukanlah sekadar siapa yang paling cepat memproduksi dan mendistribusikan berita.

 

Namun media harus dipertahankan adalah bagaimana media mampu menghadirkan informasi yang terpercaya di ruang publik, khususnya di ruang digital. Karenanya, media harus terus bertransformasi menjadi media yang kredibel," ungkapnya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Komite Pengaduan dan Penegakan Etika Pers, Muhammad Jazuli. Ia menilai industri media tengah menghadapi krisis kepercayaan akibat maraknya penyebaran hoaks, praktik clickbait, hingga pemberitaan yang cenderung membangun framing negatif.

Fenomena ini lanjutnya, tentu ikut mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Kalau zaman dulu masyarakat lebih banyak membaca berita, sekarang mereka lebih banyak menonton konten dimedia sosial," ujarnya.

Dia mengurai, siapa pun di zaman media digital ini dapat memproduksi konten dan menyebarkannya melalui berbagai platform digital. Padahal, tidak semua pembuat konten memiliki pemahaman mengenai prinsip-prinsip jurnalistik dan etika pers.

Menurut Jazuli, media arus utama memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar karena media diikat oleh berbagai regulasi dan standar etik dalam bekerja.

 

Dari sisi konten, media wajib mematuhi Undang-Undang Pers, ketentuan Dewan Pers, Undang-Undang Penyiaran, hingga berbagai aturan lain yang mengatur penyajian informasi, baik dalam bentuk tulisan, audio, maupun video dalam tayangan

 

Kepercayaan masyarakat menjadi kebutuhan utama. Jika kepercayaan itu pudar, maka media juga akan kehilangan audiens sekaligus legitimasi," tegasnya.

 

Sementara dari sisi bisnis, Jazuli lantas juga mengingatkan bahwa aset terbesar yang dimiliki perusahaan media bukan sekadar teknologi atau jumlah pembaca, melainkan kepercayaan public adalah hal yang sangat penting

Dalam workshop  juga ditegaskan bahwa media memiliki tanggung jawab lebih luas dibanding sekadar menyampaikan informasi.

Media diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan sosial, membangun optimisme masyarakat, memperkuat solidaritas publik, serta menghadirkan narasi yang mendorong semangat kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Konsep jurnalisme positif pun menjadi salah satu fokus pembahasan dalam acara pendekatan ini bukan berarti menutup-nutupi persoalan yang terjadi di masyarakat, melainkan menyajikan fakta dengan perspektif yang memberikan solusi dan membangun harapan nyata

 

Para narasumber menegaskan bahwa media yang mampu menjaga akurasi, transparansi, dan kepedulian terhadap kepentingan publik akan menjadi media yang memperoleh kepercayaan masyarakat secara luas hal ini untuk menjaga kualitas pemberitaan sekaligus mencegah dampak negatif dimasyarakat.

 

Dalam momen ini peserta workshop juga didorong menerapkan empat prinsip utama sebelum sebuah informasi dipublikasikan yakni :

 

Pertama . Menghindari penggunaan visual yang berpotensi menimbulkan rasa jijik atau trauma pada publik.

Kedua Tidak menggunakan narasi yang bersifat provokatif dan dapat memicu konflik.

Ketiga Menghadirkan narasumber atau tokoh masyarakat yang memberikan perspektif menenangkan dan menyejukkan.

Keempat, Mengonfirmasi perkembangan penanganan kasus kepada aparat penegak hukum agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak terdorong melakukan tindakan main hakim sendiri.

Workshop juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, Dewan Pers, perusahaan media, dan insan pers dalam membangun ekosistem media yang sehat.

Regulasi yang disusun pemerintah dan Dewan Pers perlu diimbangi dengan peningkatan profesionalisme jurnalis agar industri media yang ada mampu berkembang secara berkelanjutan ditengah perubahan lanskap digital.

Sementara itu narasumber sekaligus pemimpin redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto, mengingatkan bahwa paradigma pemberitaan juga perlu berubah untuk lebih baik.

 

Selama ini media kebanyak dikenal dengan ungkapan bad news is good news di era sekarang media  yang hadir ditengah kebutuhan masyarakat akan informasi yang mencerahkan, berita positif yang berkualitas juga memiliki nilai penting. "Bad news is good news, but good news is good news too," ujarnya.

 

Pesan tersebut menjadi penegas bahwa masa depan media tidak hanya ditentukan oleh kecepatan menyampaikan informasi, tetapi media masa harus memiliki kemampuan dalam membangun kepercayaan, dan menghadirkan jurnalisme berkualitas, yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. tim red/sp




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi