Kembali Ke Index Video


Ono Opo Tho Kraton Jogja Di Sorot Publik ?

Sabtu, 9 Mei 2015 | 14:26 WIB
Dibaca: 1261
Ono Opo  Tho Kraton Jogja Di Sorot Publik ?
DOK. FOTO PRAJURIT KRATON MATARAM DALAM SEBUAH ACARA KIRAB MAULID NABI DI ALAUN ALUN SELATAN DEPAN KRATON NGAYOGYOKARTO

Jogjakarta PASTVNEWS.COM, ada apa Kraton Jogja menjadi sorotan publik, yaa boleh di bilang ada ontran ontran atau ada berita heboh sebab, telah ada Sabda Raja di mana akhir akhir ini menjadi bahan perbincangan masyarakat umum.

Bahkan pula berita menghebohkan itu ada sebagian masyarakat Jogja ada yang merasa terusik adanya sabda raja, mengenai siapa penerus tahta kerajaan Mataram sebagai calon Pengganti Sri Sultan HB  X.

<< Menurut Kohbing  atau Herianto Kurniawan MBA pengusaha dan Toko emas di Jogja ini, Sabda raja tersebut sebenarnya terbilang kotroversial karena  sabda raja berisi perubahan gelar raja dan  penyebutan dari kata Buwono menjadi 'Bawono selama ratusan tahun tidak ada.

Lebih lanjut Kohbing menyampaikan, Biasanya sabda raja di keluarkan serta di tujukan ke seluruh kerabat dan abdi Dalem Kraton untuk kelangsungan kerajaan yang akan datang

Bahkan Sultan mengeluarkan, 2 sabda raja yakni, pertama di keluarkan pada tanggal 30 April 2015 :

berisi 5 point, termasuk perubahan  gelar penghapusan gelar Sultan dari Ngasa Dalem Sampean Dalem Inkang Sinuwun Kanjeng Sultan  Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalogo, Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah, mengalami perubahan dan penghapusan.

Lalu penulisan pengucapan Buwono menjadi Bawono kamping sedoso menjadi kaping sepuluh dan penghapusan kata Kalifatullah, selain itu juga ada perubahan gelar pengubahan perjanjian antara pendiri mataram yakni Ki ageng Giring menjadi ki Ageng pemanahan.

Dan yang terakhir adalah pemyempurnaan keris Kanjeng kyai  Ageng Kopek dengan kanjeng kyai Ageng Joko  Piturun pada tanggal 5 mei 2015, Juga merubah nama putri sulungnya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi "Kata Kohbing.

Selanjutnya di angkat GKR Mangkubumi, sebagai putri mahkota dan menjadi calon ratus, Maka hal ini tidak mendapat persetujuan keluarga kraton sendiri seperti dari adik adik Ngarso Dalem seperti, GBPH Hdiwinoto,  GBPH, Prabukusomo, dan Yudhaningrat  yang tidak mengikuti pembacaan sabda raja tersebut.

Pengusaha Emas HK ini menilai apa yang menjadi keputusan Kraton Jogja bisa berdampak negatif terhadap UU keistimewaan DIY, selain bisa membuat ketidak nyamanan di dalam kraton sendiri, dan membuat pertikaian sesama keluarga kraton sendiri.

Lebih lanjut  R. Herianto Kurniawan  mengatakan ada loh, abdi Dalem Kraton, yang mendapat gelar Wedono yaitu bekas kepala kejaksaan negri bernama Kardi SH, Dia mengembalikan gelar kekancingan tersebut  setelah keluar sabda raja tersebut.

Kohbing  yang memiliki kerabat HB ke VII kraton Jogja menambahkan, pemilik tidak hanya dari keturunan Sultan IX - X, saja tetapi jelas di miliki mulai dari sultan HB 1 s/d keturunan HB X, dan jika di hitung jumlah orangnya bisa ratusan ribu orang sehingga ini sudah menyerupai  kerajaan dan sebuah negara,

Kiranya para ahli waris/Penerus kerajaan mataram perlu dan membutuhkan kompromi yang baik dalam perundingan maupun di dalam mengambil keputusan dengan Ngarso Dalem sehingga kedepan tidak terjadi seperti kejadian kraton Solo dimana ada raja kembar, semoga cepat info info ini cepat rampung tidak menjalar kemana mana 'Ujar Dia.

Dengan demikian bila hal itu terjadi maka akan merugikan negara terutama sektor pariwisata dan membingungkan semua warga yang mengaku  masih punya trah keturunan kraton Jogjakarta (HB 1 - IX)

Demikian urun rembug menanggapi kejadian mengenai efek Sabda raja yang meluas hingga ke luar negri, di sampaikan oleh Kohbing yang mengaku memiliki gelar Raden dari trah HB VII muatan ini hasil wawancara  Sabtu 9 Mei 2015 di tokonya jalan solo adisucipto 16 A Jogjakarta. “Fid.

 

TERJEMAH

Ono Opo Tho Kraton Jogja In Public highlight?

Jogjakarta PASTVNEWS.COM, what Kraton Jogja into the public spotlight, yaa should be said there is ontran ontran or breaking news because there has been no word of a king where lately been the subject of public debate.

Similarly even the horrendous news that there are some communities in Yogyakarta there who feel disturbed for the word king, about who the successor to the throne of the kingdom of Mataram as a candidate Pengganti Sri Sultan HB X.

According Kohbing or Herianto Kurniawan MBA employers and gold shops in Yogyakarta, the word of the king is actually somewhat controversial because of the words of the king contains changes the title of king and the mention of the word lane into 'Bawono for hundreds of years do not exist. Furthermore Kohbing deliver, usually the word king issued and addressed to all the relatives and servants Dalem Kraton for the survival of the coming kingdom

Even the Sultan issued, two words of the king, first issued on 30 April 2015, contains five points, including a change in the title of sultan penghabpusan degree of Ngasa Dalem Dalem Sampean Inkang Sinuwun Kanjeng lane Senapati Ing Ngalogo, Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah, experience changes and deletions.

Then writing pronunciation lane into camp Bawono sedoso be the date of ten and deletions Kalifatullah, but it also is change the title of the conversion agreement between the founder of the Mataram ageng Sleigh be ki Ki Ageng archery. And the last is a dagger Kanjeng Kyai Ageng pemyempurnaan Kopek with Kyai Ageng Kanjeng Joko Piturun on 5 May 2015, also changed the name of his eldest daughter of GKR GKR Pembayun be Mangkubumi "said Kohbing.

Furthermore, in the lift GKR Mangkubumi, as the crown princess and be a candidate hundred, then it is not approved by the royal family itself like younger brother of Ngarso Dalem like, GBPH Hdiwinoto, GBPH, Prabukusomo, and Yudhaningrat who do not follow the reading of the word of the king.

Gold HK businessman assesses what the decision Kraton Jogja could negatively impact the privilege Act DIY, but can create discomfort in his own palace, and create dissension among the royal family itself. Further R. Herianto Kurniawan said there are tablets, Dalem palace servant, who got the title of which is the former chief prosecutor Wedono country named Kardi SH, He restores the kekancingan title after exiting the king word.

 

Kohbing who have relatives HB VII to the palace of Yogyakarta added that the owner is not only a descendant of Sultan IX - X, just but clearly had started from the Sultan HB 1 s / d descent HB X, and if the calculated number of people could be hundreds of thousands of people so this already resembles a kingdom and a state,

Presumably the heirs / Successor Mataram kingdom needs and requires a good compromise in the negotiations and in making decisions with Ngarso Dalem so that future events do not occur as the court of Solo where no king twins, hopefully this quick info info quickly completed not spread anywhere where 'Said He.

Thus when it happens it will be detrimental to the country, especially the tourism sector and confuse all the people who claim they have breed offspring of the palace of Jogjakarta (HB 1 - IX) Thus contribute our thoughts respond to events on the effect that extends to the word of the king abroad, conveyed by Kohbing who claimed to have a degree of breeds HB VII Raden this charge the interview Saturday, May 9th, 2015 at his shop solo road Adisucipto 16 A Jogjakarta. "Fid.

 




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi