Kembali Ke Index Video


TATA CARA MAISONG DAN SANGSENG BAGI WARGA TIONGHOA

Kamis, 30 April 2015 | 21:20 WIB
Dibaca: 16788
TATA CARA MAISONG DAN SANGSENG BAGI WARGA TIONGHOA
dok.foto ilustrasi kremasi

Media Online PASTVNEWS.COM Berikut ini muatan tentang  Malam penguburan, mengantar jenazah untuk warga Tionghoa, muatan ini di kupas oleh kohbing/Herianto Kurniawan nahkoda toko Mas Kranggan Jogjakarta. Kepada media pastvnews, Kohbing menjelaskan secara rinci terkait maisong.

Berikut kupasannya,  Sebelum kita membahas apa itu Maisong dan Sangseng, alangkah perlunya kita juga membahas tentang tata cara ji bok ( tutup peti ). Bagi yang dalam tempat di daerah lain  sering penyebutan ini berbeda meskipun artinya sama.

Contoh di Medan sering di sebut Jip kua, di Bangka disebut Ngip Liam dan Khep Liam. Sebelum tutup peti dilakukan pastilah keluarga harus memilih lebih dahulu jenis peti mati yang dianggap cocok bagi keluarga almarhum / almarhumah. Peti ini dalam bahsa mandarin di sebut Shou ban atau dalam bahasa hokkian disebut Siu Pan.

Siu Pan secara harfiah artinya peti panjang artinya peti panjang umur yang maksudnya tempat mendiang masuk duania yang abadi.

Macam macam bentuk siu pan iniada yang berbentuk sekumtum bunga cengkeh untuk kaum yang lebih mampu dibuat ukiran yang menarik dan bvagi kaum kebanyakan hanya polos saja untuk waktu sekarang siunpan yang berbahan kayu jati ini tergolong sangat mahal karena harganya berkisar Rp. 50 juta sampai Rp. 100 juta.

Sekarang banyak yang memilih peti mati biasa yang berbahan baku bukan kayu jati tapi dengan jenis kayu lain seperti kayu kalimantan yang lebih murah tapi sudah di cat dengan halus dan ada gambar sesuai agamanya. Harga peti mati biasanya berkisar Rp. 5 juta sampai Rp. 20 juta dan dianggap harganya masih erjangkau.

Perlengkapan untuk jenazah yang perlu disiapkan oleh keluarga antara lain pakaian baru satu stel dan sepatu baru kalau mungkin pakaian jas dan dasi seperti saat menjadi mempelai.

Bisa juga pakaian favorit yang sering di pakai oleh almarhum semasa hidupnya dan juga keperluan perlengkapan sehari – hari yang dipakai oleh almarhum. Perlu dicatat kalu perhiasan dari emas atau logam tidak boleh diikutsertakan dengan alasan yaitu benda duniawi dianggapakan menghambat jalan mendiang ke dunia kekal abadinya.

Untuk pemeluk agama Katolik ada pengecualian yaitu boleh menyertakan rosario yang digenggamkan ke dalam tangan jasad almarhum dan ada tulisan dalam kitab suci kalimat orang kaya sulit masuk surga maka manusia dianjurkan tidak tamak dan banyak sedekah.

MAISONG ini adalah puncak rangkaian tata cara kematian tradisi Tionghoa. Maisong artinya malam terakhir sebelum pemakaman / kremasi ( pembakaran jenazah ). Maisong sering juga  disebut malam kembang.

Maisong ini biasa disertai tidak tidur sampai pagi hari oleh keluarga dekat atau teman teman dekat / tetangga dan juga sering disalhgunkan oleh para penjudi sebagai alasan sebagai pencegah ngantuk. Sekarang judi dilarang yang masih ada Cuma permainan saja yang tanpa disertai taruhan atau yang masuk kategori judi.

SANGSENG istilah ini berarti mengantar ke makam dalamn bahasa hokkian berarti dari gunung atau mengantar ke gunung. Istilah gunung ini sering di pakai dalam tradisi kuno dulu. Makam biasanya letaknya di tempat yang lebih tinggi ( gunung atau bukit ).

Hal ini melambangkan dekat dengan langit yang melambangkan surga dan dari temat ketinggian  dianggap bisa melihat daerah di bawahnya dan juga dipercaya bisa mengawasi anak cucunya yang bisa meneruskan prestasi maupun karya almarhum yang belum sempat diselesaikan.

sehingga tempat yang dianggap strategis dan tidak terhalang oleh kuburan lain atau tertutup oleh bangunan lain tempat ini dianggap tempat yang bagus sehingga menjadi tempat pilihan utama dari keluarga almarhum.

Demikian sedikit ada5t tentang tutup peti, maisong dan sangseng dalam adat Tionghoa yang dapat saya ceritakan kembali yang saya kumpulkan dari berbagai sumber seperti  PUKJ, Budi Abadi di Jogja dan buku – buku yang memuat topik di atas. Tim red”




Video Terkait


2 Komentar
Raymond
Kamis, 23 Juni 2016 | 12:51 WIB
Cuman sekarang kebanyakan orang Tionghoa dikremasi dan abunya dilabuh di laut atau sungai. Di Singapura juga kebanyakan abu jenazah dilabuh di laut sekarang. Dulunya banyak yg disimpan di Kolumbarium, tapi tabur abu disana juga semakin popular sekarang. Setiap Cheng Beng kita tinggal ke laut atau sungai tabur bunga.Ini juga praktis, kalau kita tidak bisa melakukannya ditempat kita tabur abu, kita juga bisa melaksanakannnya dilaut atau sungai mana aja.
Balas
Raymond
Kamis, 23 Juni 2016 | 12:52 WIB
Cuman sekarang kebanyakan orang Tionghoa dikremasi dan abunya dilabuh di laut atau sungai. Di Singapura juga kebanyakan abu jenazah dilabuh di laut sekarang. Dulunya banyak yg disimpan di Kolumbarium, tapi tabur abu disana juga semakin popular sekarang. Setiap Cheng Beng kita tinggal ke laut atau sungai tabur bunga.Ini juga praktis, kalau kita tidak bisa melakukannya ditempat kita tabur abu, kita juga bisa melaksanakannnya dilaut atau sungai mana aja.
Balas

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi