Kembali Ke Index Video


Apa Benar Zaman Dulu Sendang Beji Pengkol Gunungkidul Dikramatkan ?

Jumat, 21 April 2017 | 01:08 WIB
Dibaca: 3022
Apa Benar Zaman Dulu Sendang Beji Pengkol Gunungkidul Dikramatkan ?
KENDURI MASAL DI SENDANG BEJI TAHUN 2013-2014

Nglipar-media Pastvnews.com, – Sendang Beji atau dikenal dengan nama Mbelik Beji yang beralamat di Padukuhan Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar menyimpan cerita dan fakta mistri yang sungguh mencengangkan.

Bagaimana tidak, sumber air yang berasal dari aliran sungai bawah tanah ini sejak jaman dahulu sudah banyak fakta sejarah yang dialami oleh masyarakat sekitar Sendang Beji atau biasa disebut Belik Beji.

Seperti diceritakan Tijo 55, warga Kedungpoh yang megetahui kekeramatan Sendang Beji, banyak hal yang tidak masuk akal terjadi secara nyata, disekitar tahun 1940an keramat Sendang Beji masih terasa ketal dengan sisi mistisnya, tidak sembarangan masyarakat berani menyalahi tempat itu. Pasalnya menurut Tijo, tempat tersebut bisa digunakan untuk jahat dan bisa digunakan untuk kebaikan.

Keramat Sendang Beji ditunjukan kepada pencuri kerbau, pernah ada salah satu warga yang mencuri kerbau didaerah lain, sebut saja pencuri itu namanya P, ungkap Tijo.

Karena kehilangan kerbau si korban mencarinya sampai ke wilayah Padukuhan Pengkol, karuan saja pelaku pencurian alias P ini merasa kebingungan, karena jangan-jangan hasil curianya akan ketahuan. Tetapi P tidak kehabisan akal, kerbau yang ia curi dibawa ke Sendang Beji. Dengan doa komat kamit dari P diucapkan didekat sumber sendang Beji tersebut.

Hal yang tidak masuk akal terjadi, tanduk kerbau yang tadinya menghadap ke depan dua-duanya, diputar menghadap kebelakang, karuan saja yang punya tidak bisa mengakui kalau itu kerbaunya, karena kerbau miliknya tanduk menghadap ke depan, sedangkan yang ia temukan menghadap kebelakang.

Walaupun sebenarnya itu kerbaunya tetapi P juga berdalih bertanya tanduk kerbaunya menghadap kemana? Ketika yang punya menjawab menghadap kedepan, P nyahuti, la ini tanduknya ke belakang kok,” Kata Tijo menirukan percakapan P dengan yang punya kerbau.

Tentang pencurian kerbau yang dibalik tanduknya memang sudah  menjadi cerita masyarakat pada jaman itu dan melegenda sampai sekarang karena saking keramatnya Belik Beji.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Adi Sucipto, 55, warga Pengkol sediri yang mengetahui persis kekeramatan belik Beji. Ia mengakui kalau sebelum tahun 40an – 60an, kekeramatannya masih dirasakan dan dialami sendiri oleh warga masyarakat Dusun Pengkol. Jangankan di Sumbernya, dialiran (kalen) yang berasal dari sumber Beji saja kalau menyalahi ikan pelusnya, maka akan terjadi sesuatu yang kurang baik.

“Kalau ada yang menyalahi disepanjang dialiran air dari belik Beji (kalen), misalkan mengganggu pelus (sejenis ikan seperti ikan lele tetapi pangjang seperti ular), pasti menemui hal yang tidak baik, kalau tidak nyawanya sendiri, ya, biasanya hewan peliharaan seperti sapi pasti akan mati secara mendadak,” cerita Adi.

Menurut Adi, kejadian itu sudah banyak dialami oleh warga masyarat sekitar maupun diluar warga Pengkol. Makanya tidak sembarangan yang berani menyalahi tempat belik beji tersebut.

“sekarang saja sudah tidak begitu terasa kental seperti dulu kekeramatannya, apalagi airnya sekarang digunakan untuk keperluan warga sekitar untuk keperluan sehari-hari, yang disalurkan dengan pralon,” tutpnya.

Informasi masyarakat yang lain yang hidup disekitar Belik Beji mengungkapkan bahwa belik beji dulu-dulunya adalah petilasanya wali yang hidup di pegunungan seribu. Sehingga pada masanya banyak pertapa yang” nesu budi” di tempat itu, bahkan sampai sekarangpun masih ada saja orang yang mencari sesuatu dipetilasan wali tersebut.

Seperti diungkapkan Suryono 37, bahwa ia pernah menjumpai orang yang menggunakan mobil tengah malam mengambil tanah yang dimasukan ke dalam karung. Ketika ditanya untuk apa sekelompok orang itu hanya menjawab untuk keperluan spriritual.

Suryono juga tidak mengenal orang-orang tersebut, menurutnya orang itu berasal dari luar daerah.

“Waktu saya tanya dari mana waktu itu hanya menjawab dari Gunungkidul tetapi yang jelas bukan warga sekitar,” cerita Suryono.

Karena sejarah keramatnya maka dari jaman dulu tempat tersebut setiap tahun dilestarikan yaitu setiap rasulan dibersihkan dan diadakan kenduri selamatan yang dihadiri oleh warga masyarakat dusun Pengkol, bahkan dari luar Dusun Pengkol. W. Joko Narendro.




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi