Breaking:

Kembali Ke Index Video


Surat Cinta Untuk Panitia “NGUMBAR GERAK”

Senin, 20 Juli 2026 | 21:22 WIB
Dibaca: 46
Surat Cinta Untuk Panitia “NGUMBAR GERAK”
Ketika Lomba Tari Kehilangan Marwahnya Sebagai Ruang Pendidikan Seni

Jawa Timur – media pastvnews.com,warta seni budaya Lomba tari hari ini, 19 Juli 2026, tumbuh begitu subur. Hampir setiap bulan, berbagai daerah menghadirkan kompetisi dengan beragam tajuk, tema, hingga jenjang penyelenggaraan.

 

Fenomena ini sesungguhnya patut disyukuri, karena menunjukkan bahwa seni tari masih memiliki ruang hidup yang luas di tengah masyarakat. Lomba seharusnya menjadi ruang apresiasi, pembelajaran, sekaligus wadah pembinaan bagi generasi muda untuk bertumbuh melalui jalur seni.

 

Namun di balik semaraknya penyelenggaraan lomba tari, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah seluruh penyelenggara benar-benar memahami bagaimana menyelenggarakan kompetisi seni secara profesional?

 

Saat ini tidak sedikit penyelenggara yang berasal dari kalangan memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang seni. Akan tetapi, tidak sedikit pula kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak yang minim pemahaman akan dunia tari. Ketika penyelenggara tidak memahami substansi sebuah kompetisi seni, yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas acara, melainkan marwah pendidikan seni itu sendiri.

 

Salah satu pengalaman yang memunculkan kegelisahan tersebut saya temui dalam penyelenggaraan lomba tari bertajuk NGUMBAR GERAK. Sebagai kegiatan yang diklaim memiliki jenjang hingga tingkat provinsi, ekspektasi peserta tentu mengarah pada penyelenggaraan yang matang dan profesional. Sayangnya, realitas di lapangan justru menghadirkan banyak pertanyaan.

 

Dari sisi teknis, kualitas tata suara jauh dari standar kompetisi tari yang menuntut akurasi musikal. Penataan panggung tidak memberikan ruang yang layak bagi peserta untuk menampilkan karya secara maksimal. Manajemen produksi pun nyaris tak terlihat. Peran-peran krusial seperti liaison officer, manajer panggung, kru artistik, hingga kru tata suara tidak tampak berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya, alur lomba terasa berjalan tanpa koordinasi yang jelas.

 

Fasilitas bagi peserta pun tidak mencerminkan penghargaan terhadap mereka sebagai subjek utama dalam sebuah perlombaan. Ruang transit yang kurang layak, minimnya informasi yang disampaikan, ketiadaan rapat teknis sebelum pelaksanaan, hingga tidak adanya saluran komunikasi yang jelas dengan panitia menunjukkan lemahnya tata kelola penyelenggaraan.

 

Aspek lain yang tak kalah penting adalah sistem penjurian. Sebuah kompetisi seni idealnya menjunjung tinggi objektivitas. Kehadiran minimal tiga orang dewan juri bukan sekadar tradisi, melainkan mekanisme untuk menjaga keseimbangan penilaian. Dengan hanya dua juri, ruang perbedaan pendapat menjadi buntu ketika terjadi hasil yang berimbang. Kondisi seperti ini justru membuka ruang pertanyaan mendalam mengenai bagaimana keputusan akhir ditetapkan.

 

Lebih jauh lagi, penyelenggaraan lomba berjenjang semestinya memiliki sistem seleksi yang ketat dan transparan. Setiap jenjang seharusnya menjadi proses penyaringan kualitas, bukan sekadar tahapan administratif menuju tingkat berikutnya. Ketika proses seleksi tidak memiliki standar yang jelas, maka jenjang kompetisi kehilangan maknanya. Lomba berubah menjadi sekadar seremoni “naik tingkat”, bukan ruang pembuktian kualitas.

 

Kegelisahan tersebut semakin menguat ketika melihat struktur biaya yang dibebankan kepada peserta. Dengan biaya pendaftaran yang relatif tinggi dibandingkan banyak lomba tari lainnya, peserta tentu berharap memperoleh pelayanan dan kualitas penyelenggaraan yang sepadan.

 

Di sisi lain, pembagian kategori yang sangat banyak memang memberi ruang partisipasi lebih luas, namun turut menimbulkan kesan bahwa orientasi utama penyelenggaraan bergeser dari pembinaan menuju perolehan peserta sebanyak mungkin. Kesan tersebut semakin menguat ketika informasi mengenai bentuk penghargaan maupun uang pembinaan tidak disampaikan secara terbuka dan konsisten. Transparansi menjadi kebutuhan utama; tanpa keterbukaan, kepercayaan peserta akan mudah terkikis.

 

Saya tidak sedang mempersoalkan penyelenggara memperoleh keuntungan. Sebuah kegiatan tentu membutuhkan biaya operasional, tepenyelenggara memperoleh keuntungan. Sebuah kegiatan tentu membutuhkan biaya operasional, tenaga profesional, dan keberlanjutan organisasi. Mendapatkan keuntungan bukanlah sesuatu yang keliru. Akan tetapi, persoalan muncul ketika kualitas penyelenggaraan tidak sebanding dengan beban yang ditanggung peserta. Pada titik inilah muncul kesan bahwa kompetisi lebih diperlakukan sebagai komoditas daripada sebagai ruang pembinaan seni.

 

Dampaknya jauh melampaui sekadar rasa kecewa setelah lomba selesai. Sanggar-sanggar yang selama ini membangun proses latihan dengan serius akhirnya kehilangan kepercayaan terhadap sistem kompetisi. Guru, pelatih, hingga orang tua mulai mempertanyakan: apakah lomba benar-benar menjadi ruang pendidikan, atau hanya menjadi ajang berburu trofi semata? Anak-anak yang seharusnya belajar tentang sportivitas, kualitas berkarya, dan proses artistik justru berhadapan dengan pengalaman yang tidak memberikan pembelajaran yang sehat.

 

Padahal Indonesia telah memiliki banyak rujukan penyelenggaraan lomba yang dapat dijadikan acuan, seperti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N),

 

Pekan Seni Pelajar (PSP), maupun berbagai festival seni lain yang menerapkan standar penyelenggaraan, sistem penilaian, regulasi, dan manajemen produksi secara profesional. Standar seperti inilah yang seharusnya menjadi pedoman setiap penyelenggara, terlebih jika membawa nama kompetisi berjenjang.

 

Pada akhirnya, tulisan ini bukan lahir dari kebencian. Justru sebaliknya, tulisan ini lahir dari kecintaan yang mendalam terhadap dunia tari. Saya percaya setiap penyelenggara dapat belajar dan berbenah. Kritik ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan, melainkan mengingatkan bahwa sebuah lomba seni memikul tanggung jawab moral yang besar.

 

Di dalamnya tersimpan harapan anak-anak, kerja keras para pelatih, pengorbanan orang tua, dan masa depan ekosistem seni yang sedang kita bangun bersama terutama di Banyuwangi.

 

Karena itu, izinkan saya menutup surat ini dengan beberapa pertanyaan sederhana. Apakah penyelenggara benar-benar siap menyelenggarakan kompetisi seni yang bermartabat

 

Apakah peserta sudah ditempatkan sebagai subjek utama yang harus dihormati, atau hanya sebagai angka dalam daftar pendaftaran

 

Dan yang paling penting: ketika sebuah lomba kehilangan kualitas penyelenggaraannya, apakah yang sedang dirayakan masih benar-benar seni, atau justru sekadar kompetisi yang telah kehilangan ruhnya ?

 

Semoga “Surat Cinta” ini dibaca bukan sebagai serangan, melainkan sebagai ajakan untuk bersama-sama mengembalikan marwah lomba tari sebagai ruang pendidikan, apresiasi, dan pembinaan yang benar-benar berpihak kepada para pelaku seni, khususnya sanggar tari.

 (Penulis: Achzana Ilhamy, M.Sn Kreatif Damar Art)

 




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi