GOA SELARONG MELEGENDA SEBAGAI OBYEK WISATA SEJARAH GENERASI LAMA DAN SEKARANG
Selasa, 5 Januari 2016 | 07:59 WIBBANTUL-MEDIA PASTVNEWS.COM, Sudah dapat dipastikan setiap orang mendengar Goa Selarong dikaitkan dengan tokoh pahlawana nasional, Pangeran Diponegoro yang nama besar cukup legenda itu banyak dikenal dan meninggalkan sejarah panjang bagi bangsa Indonesia.
Salah satu peningalan sejarah yang kini banyak dikunjungi, adalah obyek wisata Goa Selarong. Untuk menuju ke Goa Selarong, tidak terlalu sulit, di samping jalannya sudah beraspal, dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat –mobil.
Hampir setiap hari sarana angkutan umum sudah melewati jalan menuju ke obyek wisata Goa Selarong. Hanya saja kalau menggunakan sarana angkutan umum, setiap pengunjung harus berjalan kaki sekitar 500 meter.
Obyek ini mempunyai latar belakang historis yang mampu memberikan citra serta indentitas Kabupaten Bantul yang memiliki nilai-nilai perjuangan dan semangat pahlawan Diponegoro melawan penjajahan Belanda.

Pada kurun waktu 1825-1830, sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata, Pemda Bantul, Drs. Bambang Legowo, M.Si , Pangeran Diponegoro bersama beberapa pengikutnya, menggunakan Goa Selarong sebagai markas perjuangannya melawan Belanda.
Di tempat inilah Pangeran Diponegoro menyusun strategi perang yang kemudian dikenal dengan nama perang gerilya atau perang Jawa, Diponegoro.” tuturnya.
Dikatakan, selain aspek budaya sejarah Goa Selarong juga mempunyai pesona keindahan alam yang mempesona yang diantaranya berupa air terjun,kesenian tradisionaa. Serta dukungan lainnnyaseprti keramahana penduduknya ,kearifan local.
Selain itu Goa Selarong, di wilayah Bantul trdapat obyek wisata sejenis yaitu, Goa crème di Imogiri, Goa Gajah di Dlingo dll. Sebelum sampai ke Goa, pengunjung akan disuguhi patung pahlawan Pangeran Diponegoro yang senag mengacungkan keris, seolah-olah menyambut kedatangan pengunjung.
Patung setinggi empat meter lebih ini dibangun untuk mempercantik obyek wisata sejarah. Setelah itu, melewati deretan kios yang menjajakan aneka jajanan, setiap pengunjung yang hendak naik ke Goanya, terlebih dulu harus menaiki tangga yang jumlahnya sekitar 400 an.
Untuk memanjakan pengunjung, di sekitar lokasi sudah dibangun semacam pendopo yang berfungsi sebagai tempat istirahat sejenak, sambil menikmati indahnya alam yang terbentang di hadapan.
Setelah melewati tangga (undak-undakan Jawa), mengingatkan kita pada anak tangga makam Raja -raja Matarama di Imogiri, terus belok maka sampailah ke Goa Selarong. Menurut, Dalijo, penduduk Wukirari, Pandak bantul Bantul, menuturkan, Goa Selarong yang digunakan untuk menyusun strategi dan sembunyi Pangeran Diponegoro disebut Goa Lanang, tidak jauh dari lokasi juga terdapat Goa Wadon.
Menurut beberapa penduduk, di Goa Selarong banyak terdapat jambu kluthuk yang menjadi mascot, bagi pengunjung yang menikmati buah segar. Namun kini sudah tidak lagi didapatkan. “ Dulu ketika saya masih kecil sering cari jambu, di sini jambunya enak, tidak ada bijinya.
Sekarang jambu itu sudah tidak ada lagi yang jualan. Dulu kalau saya beli Rp. 50,- atau Rp. 100,- per keranjang. Dan pembeli kalau beli ndak pernah ditimbang, hanya dikira-kira dengan tempat kreneng yang rata-rata satu kreneng kecil harganya Cuma Rp. 50, dulu hampir setiap saat tersedia.
Sekarang sulit didapatkan. ” tutur Wardoyo mengenang. Wardoyo penduduk Wukirsari dan beberapa temannya menyayangkan kelangkaan jambu yang menjadi maskot obyek wisata Goa Selarong.
Dulu hampir setiap halaman penduduk ditanami jambu kluthuk, bengkoang (besusu). Sekarang jangan harapbisa dijumpai, sebabnya apa saya tidak tahu, kalaupun ada hanya satu atau dua penduduk.” Ungkap Wardoyo mengenang masa kecil.
Dari beberapa guru sejarah, mengatakan, Goa Selarong berasal dari kata “ Selo” artinya batu dan “ rong” artinya Goa. Jadi Selarong adalah Goa Batu yang pernah digunakan Pangeran Diponegoro dan prajuritnya mengatur strategi perang melawan penjajah. Melihat kondisi alamnya yang naik turun terjal, bebatuan, hutan lebat bahkan sulit dijangkau oleh pasukan Belanda.
Seperti tempat-tempat wisata lainnya di Goa Selarong biasanya cukup ramai dikunjungi pada musim liburan, sedang hari-hari biasa agak sepi pengunjung.
Setiap pengunjung tidakdipungut tiket masuk, hanya setiap pengunjung disediakan tempat parker, untuktarif parker sepedamotor Rp. 1.000,- mobil Rp. 2.000.-. Sekalipun di sekitarnya kini sudah tumbuh berbagai kios yang menjajakan makanan bakso, soto, mie ayam dsb, sedangkan minuman.
Dari beberapapengunjung banyakyangberharap, agar dilokasi Goa Selarong dijadwalkan adanya atraksi misalnya kesenian tradisional. Selain bisa menikmati goa dan alam sekitarnya juga menyaksikan kesenian.
Sebenarnya, jika benar-benar Goa yang mempunyai nilai sejarah tersebut dibenahi tidak kalah menariknya dengan obyek wisata lainnya. isan riyanto


