Kembali Ke Index Video


Gelaran Budaya Istimewaan simbol -Simbol Sarat filosofi

Sabtu, 18 November 2017 | 07:05 WIB
Dibaca: 477
 Gelaran Budaya Istimewaan simbol -Simbol  Sarat   filosofi
dialog budaya jogja

Jogja media online pastvnews.com, mengajarkan kembali  pendidikan karakter kepada generasi muda menjadi hal penting, karena dinilai selama ini pemahaman terhadap  pendidikan karakter  makin berkurang.

Pendidikan berkarakter itu supaya tetap berbasis pada budaya,karena budaya tidak  boleh keluar dari akar budaya Yogya. Semua ajaran Taman Siswa,Sanggar Alam,Keraton maupun Puro Pakualaman menjadi basic ,selain ajaran  ajaran lain ataupun basic pendidikan seperti NU dan Muhamamdiyah.

Menurutnya  pendidikan  berkarakter  dimulai dari sejak dari dalam kandungan.Orangtua mempunyai peran penting  dalam pembentukan karakter anak. Sejak masih di dalam kandungan anak itu sudah diberi pemahaman tentang karakter, artinya menanamkan karakter  yang baik lewat ibunya.

Ketika masih di dalam kandungan pun sekitar memberi semangat supaya memiliki  perilaku yang baik terhadap bayinya,bathin baik, berdoa yang baik. Setelah bayi  lahir peran yang tidak kalah pentingnya adalah keluarga.

Di Yogya, khususnya di Jawa, yang  punya banyak budaya amat  mulia “nguri-nguri budaya Jawa” mulai dari kekahan (Aqiqoh), tedak siten setelah beranjak dewasa,neton Banyak symbol budaya  Jawa, kesemuanya  itu mengandung doa.

Orang Jawa  itu penuh dengan simbul dan filosofi, simbul-simbul  dapat diwujudkan dalam pernik-pernik,di dalam tembang-tembang dan doa-doa.

Simbol tersebut semuanya itu memiliki  makna dan filosofi yang sangat  dalam. Seandainya   dipahami dengan  baik dan benar oleh keluarga masing masing. Ini nampaknya mulai luntur terhadap pemahaman symbol.

Pemahaman setiap filosofi dari setiap tradisi yang dilakukan oleh nenek moyang sampai sekarang masih ada keluarga yang melantunkan tetapi  makin sedikit yang paham tentang simbol dan  filosofi.

Demikian diungkapkan,Herlina dari Dinas Kebudayaan DIY, dalam acara Gelar Budaya Keistimewaan yang bertajuk :  Pembangunan Karakter Sebagai Basis Nilai Keistimewaan DIY di  Pendopo Tamansswa, Jalan Taman siswa,

 Yogyakarta (15/11/2017). Tampil dalam  Gelar Budaya Keistimewaan,  Penghageng  Kasultanan  Ngayogyakarta, KRT Gondohadiningrat,Ki Priyo Dwiarso Anggota  Majelis Luhur  Taman Siswa, dan Sri Wahyaningsih dari Sanggar  Anak Alam, Salam Nitiprayan,Kasihan Bantul.

Dinas Kebudayaan berusaha menanamkan kembali semua lelaku mulai dari dalam kandungan, hingga kematian.Supaya menghindarkan dari pemahaman sirik, musrik. Menjadi kewajiban pemerintah untuk kembali memahami hal-hal benar tentang tradisi berkebudayaan.

 

 Itulah out put peradaban, masyarakat  yang berperadaban unggul pasti ditandai  dengan ketidaklugasan,tidak secara langsung gerakan  lembut,” tuturnya. Orang Jawa dalam penyampaian penuh bersanepo,tidak langsung tidak kasar. Sementara itu, Dr.Sri  Ratna Saktimulya,M.hum Kaprodi Sastra  Jawa FIB UM,yang tampil sebagai  pembicara menyatakan, menanggapi simbol simbol  yang sangat sarat   filosofi.

dengan melakukan alih aksara piwulang apa yang   disebarkan wajib untuk mengajarkan kembali kepada mahasiswa dan mahasiswa mengajarkan di sekitarnya.

Malam Gelar Budaya  Keistimewaan  ditampilkan Tembang Macapat,Kesenian  Langen  Gita Ambuka  Raras Angesthi Wiji, Pentas  Wayang  Kancil  Dalang Ki Dr.Eddy Pursubaryanto,M.Hum (FIB UGM). Isan riyanto




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi