Kontraktor Proyek Naruh Material Berserakan di Keluhkan Warga
Kamis, 22 September 2016 | 20:15 WIBNgawen-media Pastvnews.com - Sejumlah ruas jalan di Jalan Nglipar – Semin sedang mengalami rehabilitasi/pemeliharaan total maupun sebagian, guna untuk memperlancar jalannya lalu lintas setiap harinya. Pemeliharaan jalan sepanjang 4 KM ini menggunakan anggaran dari APBD Propinsi dengan menghabiskan dana 6,1M lebih.
Namun demikian Kontraktor yang mengerjakan pekerjaan itu kurang mengindahkan peraturan rambu jalan, yang mana banyak tumpukan material dan tempat dikerjakanya proyek rambu-rambunya kurang memadai, sehingga dikawatirkan akan membahayakan pengguna jalan raya, apalagi dimalam hari, potensi terganggunya arus lalulintas dan pengguna jalan sangat tinggi.
Rekanan proyek harusnya berkordinasi matang dengan beberapa pihak yang terkait agar tidak ada yang dirugikan, baik pengguna jalan maupun warga sekitar. Apalagi pada saat ini terlihat di beberapa titik menggunakan alat berat, untuk penggalian saluran air atau drainase di pinggir jalan.
Kondisi ini jelas berpengaruh pada kelancaran arus lalulintas setiap harinya, juga sangat berpengaruh terhadap jalanya roda kehidupan warga disekitar proyek.
Seperti penggalian yang dilakukan didepan ruko sepanjang kaliwaru, Ngawen ini, sebanyak 13 ruko lumpuh total tidak bisa berjualan, walaupun ada yang berjualan pendapatanya turun drastis hingga 80%, sedangkan dari pihak kontraktor tidak mau tahu tentang kondisi para pedagang di ruko tersebut.
Hal tersebut banyak dikeluhkan para pedagang yang berjualan disepanjang ruko tersebut. Seperti Sri Lestari yang sehari-harinya berjualan kelontong di ruko Kaliwaru, selain mengeluhkan penghasilanya turun sampai 80% juga tidak ada kompensasi dari pihak kontraktor selama aktifitas pengerjaan proyek didepan ruko tempat jualanya.
“ya, yang jelas sangat mengganggu, karena selama pengerjaan proyek ini pendapatan saya turun 80%, dan sama sekali tidak ada konpensasi dari pihak kontraktor,”tutur Sri.
Hal senada juga diungkapkan pedagang yang lain, pedagang yang tidak mau disebut namanya ini memilih menutup jualanya, karena tidak ada yang mau membeli, terhalang penggalian lubang untuk pembuangan air.
“Saya mending tutup, mas, karena tidak ada yang membeli, jelas rugi besar, belum saya harus membayar tanggungan hutang, sedangkan kontraktor tidak mau tahu dengan keadaan kita dan para pedagang yang lain,” keluhnya.
Sugiyono alias Gatul juga sudah menutup dagangannya selama hampir 2 bulan, pedagang bakmi jawa ini memilih tutup, dari pada buka akan menanggung rugi yang lebih besar.
“ya kalau rugi pasti, tetapi kalau untuk pembangunan yang lebih bagus ya tidak apa-apa, sambil nunggu proyek selesai, saya tak kerja disosial dulu,”kata anggota Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) ini.
Sementara itu Eko Rutanto, anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, yang kebetulan didepan rumahnya juga terkena perbaikan jalan, mengatakan terkait keluhan masyarakat yang berkembang saat ini, sebenarnya sudah disosialisasikan kepada masyarakat dan tokoh.
“Lebih lanjut di jelaskan, sepanjang untuk perbaikan pembangunan yang lebih bagus saya kira tidak apa-apa, lagi pula sudah disosialisasikan ke warga kok, termasuk tokoh masyarakat juga, soal saluran air itu memang dulu ada permintaan warga, supaya air tidak menggenang didepan ruko, kalau mau dibuang ketimur khan ada sawahnya,” jelasnya.
Namun demikian wajar kalau ada masyarakat yang protes, tapi yang jelas semua untuk perbaikan pembangunan kedepanya, bukan hanya untuk sesaat, pungkasnya.
Memang pantauan di lapangan sejumlah material yang di taruh pihak pemborong terlihat mengganggu pandangan mata sehingga, selam proyek berjalan warga memilih menggerutu. W.Joko Narendro

Video Terkait
- 150 Tower Seluler di Yogya Tak Berizin Tumbuh Subur 'Siapa Yang di Untungkan ' Siapapula yang di Rugikan ?
- SMA Negeri 1 Wonosari Ajarkan Olahraga Menantang
- Ibnu Abbas “Nyenuk” Cari Tempat Sendiri-Sendiri
- Berkedok LSM Kades Parit Bilal Tanjab Di Teror 'Karena Proyek Jalan Desa
- Kepala Desa Di teror Telpon dan SMS yang mengatas Namakan LSM




