Humanity Foodtruck Peduli Sambil Dengarkan Kisah Jogja Tempoe Doloe Bagian 1
Kamis, 7 Juni 2018 | 23:10 WIBKota Jogja media pastvnews.com, memasuki sepuluh hari terakhir 6/06/3018 Relawan ACT bergegas menuju pusat keramaian Kota Yogyakarta, lengkap dengan ditemani Tiga Box kardus besar yang berisi 150 menu buka puasa persembahan dari Hajj Chicken.
Di perjalanan Tim ACT bersama relawan MRI berusaha menembus kemacetan Kota Yogyakarta, sayup-sayup matahari menyorotkan sinarnya yang semakin rendah menambah kekhawatiran kalau-kalau sebelum tempat tujuan Adzan Magrib keburu berkumandang. Iya seperti itulah gambaran keseharian Tim ACT DIY bersama dengan Relawan MRI, berburu keberkahan ramadhan dengan melakukan Aksi Terbaik, berbagi keberkahan bersama orang-orang yang membutuhkan.
Akhirnya, ketika dering jam telah menunjukkan pukul 17:08 WIB, lokasi yang dituju telah sampai. Tim kemudian bergegas menurunkan box-box kardus berisi makanan dari mobil ACT. Hanya dengan hitungan menit, ketika samar-samar dari beberapa meter mulai banyak terdengar bisikan dan kata pelan ada “takjil-gratis, ada takjil gratis”,
tak butuh waktu lama, lokasi Humanity Foodtruck ramai diserbu kerumunan warga, mulai dari Bapak-bapak, Ibu-ibu, baik tua maupun muda telah berdesakan menunggu pembagian nasi kotak persembahan dari Hajj Chicken. Hajj Chicken sendiri merupakan mitra ACT DIY dalam program Shopping Charity untuk Suriah.
Iya, memang betul adanya, Rabu kemarin (06/06/2018) Tim ACT dengan partner media Radio Kota Perak, mengadakan kegiatan Humanity Foodtruck di Nol Kilometer Yogyakarta. Lokasi strategis Nol Kilometer sengaja dipilih karena di tempat ini menyimpan banyak sejarah Yogyakarta, di samping kiri terdapat monumen perjuangan serangan umum 1 maret 1949, yang mengisahkan perjuangan warga Yogyakarta dalam menggempur pasukan Belanda. Di samping kanan tepat berdiri kokoh Gedung Agung yang dulu pernah menjadi Ibukota Indonesia ketika Kota Jakarta dalam masa pengepungan Belanda.
Tetapi dibalik megahnya gedung-gedung bersejarah tersebut, nyatanya masih banyak ditemui sorot-sorot mata yang seakan memberi isyarat kepada kita untuk lebih peduli, memanggil nurani kita untuk menjadi manusia-manusia yang ikhlas dalam menyisihkan sebagian harta maupun tenaga demi mengentas permasalahan kemanusiaan.
Sorot-sorot mata tersebut hadir dari para tukang becak, anak-anak kecil yang tidak bisa lanjut sekolah dan terpaksa harus berjualan koran di persimpangan jalan, serta para pemulung menggantungkan rizekinya dari tong sampah yang berderet sepanjang jalan Malioboro.
Walaupun dengan segala dinamikanya, Jogja adalah kota Istimewa, bagi kami keistimewaan itu hadir dikala orang-orangnya yang berlaku arif, senyum dan sapaan ramah itu tak jarang dijumpai sepanjang jalan ketika orang-orang sedang berpapasan.
Salah satunya ialah Pak Ismadi (65) walaupun diusianya yang sudah tidak muda lagi, ia tetap giat mencari nafkah untuk keluarga dan anak-anaknya lewat profesi sebagai pengayuh becak sekitaran Malioboro, di sela-sela kesibukannya itulah ketika sore itu Adzan Magrib hanya berjarak hitungan menit, sambil memegangi satu porsi menu buka puasa, ia mulai bertutur tentang kehidupan kepada tim ACT
kita hidup di dunia ini itu hanya sementara, yang berkuasa atas semua itu hanya Allah, jadilah orang yang baik agar nanti tidak merugi” ujarnya sambil meminta do’a kepada kami semoga lekas diberi kesembuhan atas sakit lambung yang dideritanya selama ni. Red






