RIBUAN WARGA LEPAS PAKU ALAM IX
Kamis, 26 November 2015 | 14:18 WIBMedia online PASTVNEWS.COM, Jogja kehilangan pemimpin yakni Sripaduka Paku Alam IX, kemudian terpanatau oleh media prosesi upacara pemakaman Almahum, meski cuaca Yogya cukup panas tak mengurangi takziah untuk menyatakan belasungkawa atas meninggalnya, KGPPA Paku Alam IX yang wafat dalam usia 77 tahun di RS Sardjito, Yogyakarta.
Masyarakat baik dari kalangan biasa sampai pejabat tinggi Negara hadir menyatakan belasungkawa. Jenasah KGPAA PA IX setibanya dari RS Sardjito, di semayamkan terlebih dulu Gandok,ndalem Puro Pakualaman. Para takziah saat itu menunggu kedatangan jenasah dan memberi penghormatan terakhir Raja Kadipaten Pakualaman, dengan melakukan sholat.
Sementara itu di pintu masuk pendopo KBPH Suryodologo beserta istri dan kerabat Puro Pakualaman menerima jabat tangan sebagai tanda duka dari para pelayat yang terus mengalir.
Sebelum diberangkatkan, ke makam Girigondo,Kulonprogo. Diadakan upacara tradisi “tlusupan” yakni upacara berjalan dengan cara membungkuk di bawah keranda jenazah yang diikuti putra-putri, cucu dan cicit, serta keluarga yang lain. Upacara tradisi yang hanya memakan waktu beberapa saat, dilanjutkan upacara “nglorot”.
Upacara nglorot, sebagaimana diungkapkan, KPH Sutomo Parastho, sebagai bentuk pernyataan sikap kesetiaan dan kesediaan putra mahkota untuk “nglintir” keprabon.” Mengapa yang menggantikan KBPH Suryodilogo, mas Mamok demikian panggilannya memberi alasan.
Perlu diketahui KBPH Suryodilogo telah diangkat sebagai putra mahkota 3 tahun lalu,jadi sah secara paugeran yang berlangsung di Kadipaten,lalu apa lagi, kapana pelaksanaan jumenengan, kita tunggu waktu yang tepat, dan masih kita bicarakan,” jelasnya.
Tradisi nglorot hanya diikuti putra mahkota, dan beberapa saksi lainnya yang dianggap “kasepuhan” sedang isi dari deklarasi,atau pernyataan diri sebagaimana diungkapkan, KPH Kusumo Parastho, berkisar tentang kesiapan dan kesediaan untuk mengemban amanah Kadipaten Paku Alaman,karena KBPH Suryodilogo sudah diangkat sebagai putra mahkota tiga tahun lalu ya seharusnya djalankan,ini sudah sesuaidengan paugeran “ ujarnya.
Seperti tradisi yang sudah berjalan, deklarasi atau pernyataan diri diadakan di Bangsal Sewotomo,Pakualaman. “ Prosesi yang sudah turun temurun dan sesuai paugeran diadakandi Bangsal Sewotomo, dan didukung para kerabat dan sentana.
Setelah itu, dikeluarkan tombak Kanjeng Kyai Buyut dan Kanjeng Kyai Paku Baru, dua pusaka milik Pura Pak Alaman dikeluarkan menuju plangkan yang telah disiapkan, serta gamelan yanghanya dimainkanpada saat jumenengan.” ungkapnya. (isan r)

Video Terkait
- Sri Sultan dan Sripaduka Paku Alam "Embrio Jogja Istimewa
- 2 penyanyi dangdut dan campursari semarakkan desa wisata pucung rejo
- Mesranya Kohbing ultah di desa wisata lakukan potong kue lantas cium istri
- Lagu Desaku yang tercinta "mengumandang di desa wisata pucung rejo wukirsari imogiri
- Aksi naga liong semarakan desa wisata pucung rejo wukirsari
- Titiek Soeharto Kagumi Peternakan Agro Wisata Bhumi Merapi Farm
- SING DADI BUPATI GUNUNGKIDUL SING DUWE PEMIKIRAN GAWE BUDIDAYA TELO SEMENE IKI GEDENE
- Kadin Pariwisata DIY Suport Festival 1000 Kitiran di Panggung Terbuka




