Kembali Ke Index Video


Sri Sultan dan Sripaduka Paku Alam "Embrio Jogja Istimewa

Kamis, 26 November 2015 | 13:40 WIB
Dibaca: 2174
Sri Sultan dan Sripaduka Paku Alam "Embrio Jogja Istimewa
SULTAN HB X DI DALAM PELAYATAN SRI PAKU ALAM IX

Media online PASTVNEWS.COM, dua belas tahun sudah  penantian panjang  masyarakat   DIY  menunggu  disahkannya  RUUK  DIY menjadi UUK DIY. 

Berbagai lobi dan sidang-sidang dewan, terjawab sudah di pusat  para wakil rakyat, akhirnya perjuangan  panjang membuahkan hasil.Tercapainya perjuangan pengesahan  UUK DIY  tidak bisa lepas dari  peran masyarakat.

Wajar jika kemudian,  Jogja mendapat predikat Istimewa. Namun sejak  Raja Jogja yang  juga bergelar Sultan mengeluarkan Sabdaraja (beberapa bulan lalu) mengisyaratkan di dalam trah  bekas  dinasti Mataram Islam terjadi perpecahan di kalangan interen Keraton.

Lalu bagaimana  nasib DIY ? Akankah DIY kehilangan  roh keistimewaan ? atau MUNGKIN yang lebih tragis lagi, DIY telah  mengingkari  seperti yang diamanahkan para pendahulunya yang tercantum dalam Maklumat Amanat 5 September  1945. Intinya pertama  Negeri  Jogjakarta dan  (Negeri Pakualaman) merupakan sebuah kerajaan  yang menjadi  daerah istimewa  dari NKRI.

Kedua,  Sri Sultan  Hamengku Buwono IX dan  Sri  Paduka  Paku Alam VIII adalah penguasa  atas  Jogja yang bertanggung jawab  langsung  kepada  Presiden RI. Dengan  penegasan  tentang status  Jogja di dalam  wilayah  RI, Amanat  5 September  merupakan embrio  Daerah Istimewa  Jogjakarta.

Kini setelah berpulangnya Sripaduka Paku Alam IX tahun 2015 akan segera ada pergantian kemjudian di lantik menjadi penerus Paku Alam IX, yang akan meneruskan sesuai amat jogja tetap istimewa berserta warga Jogja, lalu siapa yang akan naik tahta ? tentu publik jogja akan menunggu kabarnya. 

Amanat tersebut,  betapa kuatnya  komitmen  Jogja kepada  NKRI. Sri  Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri  Paduka  Paku Alam VIII sebagai  Dwi Tunggal  akan memimpin Jogja dengan bertanggung jawab secara langsung  kepada Presiden RI.  Komitmen tersebut  mendapat dukungan dari para abdi dalem Kasultanan yang tergabung dalam  “ PEKIK” ( Pemuda  Kita  Kasultanan) pada 27  Desember  1945. 

Dalam mosi tersebut,  mereka berjanji  pertama, senantiasa berdiri  di belakang Sultan.Kedua, berjanji jika ada kekuasaan  asing  yang hendak memerintah atau menjajah Indonesia atas  titah  Sri  paduka,  mereka sanggup  meletakkan  jabatan. Ketiga,  berjanji  untuk memelihara  dan mempertahankan kemerdekaan RI. Mosi pernyataan senada juga dibuat oleh para abdi dalem  Puro Pakualaman.

Visinoner Nasionalis

Keberadaan Amanat  5 September  1945,  menunjukkan  Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat dan Negeri  Pakualaman  merupakan daerah istimewa di dalam Negera  RI. Namun, penegasan  Amanat tentang Keistimewaan  bukan merupakan  suatu sikap yang menjukkan ambisi  pribadi dan primodial, namun  kebijakan  Sri Sultan  Hamengku Buono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII adalah bersifat konstitusional sebagai perwujudan  merespon  amanat UUD 1945 yang belum diamandemen.

 

Kasultanan  Ngajogjakarta  Hadiningrat di dirikan oleh  Sri Sultan  Hamengku Buwono I pada tahun  1682 ( 1756 Masehi)  dengan  ditandai sengakalan memet yang berbunyi “ Dwi Naga Rasa  Tunggal” ( dua naga  bersatu).  Ternyata  simbolisasi  angka  dibaca  sebagai dwi negara satunggal ( dua negara  satu adanya).  Artinya,  Sri Sultan HB I mempunyai  visi ,bahwa  meskipun Mataram sudah pecah  menjadi dua  Ngajogjakarta Hadiningrat dan  Surakarta Hadiningrat namun tetap  satu adanya.

Kasunanan dan  Mangkunegaran menyatakan  bergabung dengan   RI,  sementara   Surakarta Hadiningrat  rupanya  tidak secekatan   Ngajogjakarta Hadiningrat dalam menyatakan sikap politiknya , karena kondisi  disana  kurang kondusif.

 

 Keputusan untuk menyatakan    Ngajogjakarta Hadiningrat sebagai  daerah istimewa  merupakan sikap  visioner  dan nasionalis, dalam rangka menegakkan  visi  Republik Indonesia.

 

Seiring  dengan tumbuh kembangnya  alam demokrasi di era reformasi, pasca Orde Baru yang berlatar  belakang kesejarahan  DIY. DPRD DIY  bersama berbagai   elemen masyarakat  DIY yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, aparat pemerintahan kabupaten, kota hingga kecamatan dan pedesaan, kelompok tani, asosisasi penarik becak, organesasi kewanitaan bahkan  masyarakat  dari berbagai   provinsi lain yang bertempat tinggal di DIY, memberikan  orasi mendukung  keistimewaan.

 

 Diakui, untuk memperjuang RUUK DIY hingga  disahkan  menjadi  UUK  DIY membutuhkan waktu panjang dan melelahkan. Atas dasar gagasan dan aspirasi, pembahasan yang cukup a lot.

Masyarakat  DIY tetap  menolak mekanisme  Pemilihan, karena  melalui mekanisme   kedudukan  Sri Sultan HamengKu Buwono X dan Adipati  Paku Alam  IX pada saat itu akan ditempatkan  sebagai “Pararadhya”, yaitu lembaga  yang terdiri dari  Sultan HB IX dan Adipati Paku Alam IX sebaga  kesatuan yang empunyai  fungsi sebagai  simbol, pelindung  dan penjaga  budaya serta pengayom dan pemersatu masyarakat  DIY. Sedangkan penyelenggaraan  Pemerintahan DIY dipimpin  Gubernur yang berkedudukan  sebagai  Kepala Daerah.

Rupanya pembahasan ini belum ada kesepakatan,  melalui Rapat  Kerja DP RI dan  Pemerintah, pada  8 September  2009, direkomendasikan  pembahasan lanjutan RUUK  DIY menjadi agenda  DPR RI periode  2009-2014. Kembali kronologi proses  pembahasan RUUK DIY yang digelar DPR RI bersama Mendagri, Menhumkam dan DPD RI belum ada  kesepakatan.

Setelah  cukup lama melalui perdebatan panjang, akhirnya pemerintah mengeluarkan  Undang-undang No 13  Tahun  2012 tentang DIY pada  30 Agustus 2012.  Dengan disahkan  UU Keistimewaan ini menjadi catatan sejarah  dan babak  baru bagi  pemerintahan  DIY di era reformasi dan demokratisasi bagi masyarakat DIY pada  khususnya dan rakyat  Indonesia  pada umumnya. (isan riyanto)

 

 




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi