Nyadran Bentuk Melestarikan Budaya
Senin, 8 Agustus 2016 | 06:34 WIBPlayen-Pastvnews.com - Khususnya di Gunungkidul, secara sederhana Nyadran adalah kegiatan bersih makam atau petilasan leluhur yang Agung jaman dahulu, yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Jawa pada umumnya yang tinggal di pedesaan.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak jaman Hindu-Budha sebelum masuknya ajaran Islam ke tanah Jawa. Dan sejak abad ke-15 para Sunan atau yang dikenal dengan sebutan Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dalam dakwahnya untuk menyebarkan ajaran Islam supaya mudah diterima.
Nyadran bisa dipahami sebagai sebuah simbolisasi hubungan horizontal dan vertical antara seseorang dengan leluhur, dengan sesama dan hubungan dengan Tuhan.
Bentuk kegiatannya adalah berupa acara massal membersihkan makam atau petilasan para leluhur dan mendoakan para pendahulu supaya mendapatkan ampunan dan keselamatan dari Allah, sekaligus banyak warga yang memohon berkahnya dari leluhur yang di do’akan tersebut.
Seperti acara Nyadran di Gunung Gentong, Kecamatan Gedangsari, Gunung Gambar, Kecamatan Ngawen, Hutan Wonosadi, Kecamatan Ngawen, Petilasan Eyang Damarjati, Kecamatan Playen, petilasan Kyai Tengaran, Kecamatan Semanu dan sebagainya.
Nyadran biasanya dilaksanakan bertepatan dengan datangnya bulan Sya’ban dalam perhitungan kalender Hijriyah atau penanggalan Islam, yang jatuh sebelum datangnya bulan Ramadhan, atau dalam penanggalan Jawa disebut sasi Ruwah.
Tetapi tidak demikian dengan masyarakat Gunungkidul, Nyadran biasanya dilaksanakan setelah habis panen padi, dan bersamaan atau hampir bersamaan dengan kegiatan bersih desa atau rasulan.
Pemandangan yang menarik dalam tradisi Nyadran ini adalah bentuk kebersamaan, gotong royong yang merefleksikan kerukunan dalam hubungan keluarga dan kemasyarakatan.
Sebuah bentuk kegembiraan yang mungkin sederhana bagi kebanyakan masyarakat di perkotaan, tapi merupakan kemewahan, bahkan melebihi kemeriahan lebaran bagi masyarakat desa yang menjalaninya.
Bahkan sebagian masyarakat Gunungkidul banyak perantau dari berbagai daerah seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Kalimantan, Sumatera, mereka datang pada saat Nyadran dan rasulan.
Seperti Nyadaran di petilasan Eyang Damarjati,yang belum lama ini dilaksanakan, yang datang perantau dari berbagai daerah, mereka antusias, selain rindu kampung halaman juga tetap melestarikan budaya jawa yang adi luhung ini, juga memberikan dorongan kepada generasi muda kegiatan yang baik ini untuk diteruskan sampai ke anak cucu nanti.
Mbah Kasbi, juru kunci petilasan menuturkan, karena ini tinggalan nenek moyang, maka sampai kapanpun tetap akan dilestarikan, karena selain untuk tempat ziarah juga pada saat Nyadran rasulan ini sebagai tempat berkumpulnya warga masyarakat dengan warga perantau yang datang dari berbagai daerah.
“bisa mempererat tali silaturahmi diantara warga masyarakat antara perantau dengan masyarkat sini,” tutupnya. W. Joko Narendro

Video Terkait
- 20 MILYAR UNTUK MEMBANGUN TAMAN BUDAYA
- Heland Saa 'gelar pameran buka wawasan masyarakat Gunungkidul tentang seni
- MENGUATKAN MORAL ANAK DENGAN AGAMA
- Pemuda Bejiharjo Gunungkidul memprotes pelantikan perangkat desa yang tidak transparan
- DINAS PENDIDIKAN DIDEMO ORMAS DAN ALIANSI LSM TAJAM, WAHIDIN MENGHINDAR.
- Wuich pengendang cilik piawai menabuh lima kendang




