Turun Temurun Salimin Menjadi Pandai Besi Cuelo
Rabu, 10 Agustus 2016 | 15:35 WIBSemanu- Gunungkidul Pastvnews.com - Pengrajin alat-alat pertanian dan pembangunan tradisional atau pandai besi di Dusun Ngropak, Desa Cuelo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, semakin punah karena kurangnya minat anak muda.
Dusun Ngropak, Cuelo yang pada jaman dulu ada beberapa pandai besi kini tinggal tersisa 1 kelompok. Itupun dikelola keluarga Salimin, 70 thn, yang masih menncintai pekerjaan yang diturunkan nenek moyang mereka.
Salimin menjalankan pekerjaan ini karena warisan turun temurun dari mbah-mbahnya dulu yang diturunkan ke Karso Dinomo, orang tuanya Salimin yang sekarang diturunkan kepadanya.
Setiap hari mereka membuat alat-alat pertanian dan bangunan seperti cangkul,sabit, gathul, pisau, atau alat pertukangan tergantung pesanan. Tidak banyak yang mereka produksi karena terbentur dengan modal.
Dalam sehari mereka mengaku membuat 5 hingga 7 buah berupa cangkul, gathul, arit (sabit) atau beberapa buah pisau sembelehan hewan, itupun tergantung dari pesanan.
Sudah banyak pelanggan yang sering memesan alat-alat pertanian ke tempatnya Salimin, karena pembuatanya terkenal bagus dan tajam, cara memilih bahan juga harus yang bagus baik besinya maupun wojonya (Bajanya).
Untuk membakar besinya tidak sembarang menggunakan arang, harus arang dari kayu jati, sehingga hasil tempahannya bisa maximal bagus, oleh karena itu harganya juga cukup lumayan tinggi, karena kwalitasnya sangat bagus.
“harga memang lumayan tinggi, karena saya menjaga kwalitas, dengan menggunakan bahan-bahan yang bagus semua, baik besi,baja maupun arang pembakarnya,” terang Salimin, Selasa, 09/08/2016, sore.
Satu buah sabit/arit, pisau sembelehan hewan dan cangkul rata-rata dijual seharga Rp 100.000 sampai Rp. 200.000, sedangkan gathul hanya dihargai Rp 35.000 per buah.
Bahan yang bagus dari gigi bego yang sudah rusak, didapat dari wilayah Klaten, Muntilan dan kadang ada kenalan teman Salimin yang kerja dibego, harga bahanpun sudah cukup tinggi.
Untuk pemasaran tidak ada masalah, karena sudah banyak yang pesan langsung ke rumah, barang belum dijual kepasar sudah habis, kadang Salimin kewalahan melayani pelanggan, apalagi pelanggan yang datang dari jauh-jauh, kalau tidak dibuatkan merasa kasihan.
“Pelanggan tidak hanya datang dari Wilayah Gunungkidul saja, tetapi dari luar Gunungkidul, seperti Semarang, Solo, Klaten, Jogja, Pacitan, Wonogiri dan sebagainya,”terang bapak berputra empat ini.
Hanya karena terbentur modal, maka Salimin hanya menggarap alat-alat pertanian dan pertukangan tergantung pesanan, hasil garapanya sudah terkenal sampai ke pelosok-pelosok bahkan luar daerah.
Sayangnya padai besi garapan Cuelo yang sudah terkenal ini tidak ditiru oleh masyarkat sekitarnya, padahal potensinya ada, hanya kemauan untuk menjadi pandai besi tidak ada, pernah berkembang tetapi tetap layu lagi dan hilang bak tertelan bumi.
Ironisnya lagi peralatan pertanian seperti kapak, golok, patik, cangkul, sabit atau peralatan pertanian lainnya lebih banyak didatangkan dari luar daerah yang harganya murah, malah penjual golok yang berkeliling saja kebayakan berasal dari Garut atau Sukabumi yang kwalitasnya jauh dari hasil garapan Cuelo. W. Joko Narendro

Video Terkait
- Aturan Penggunaan Dana Desa, Aturanya Berubah-Ubah Kades - Kades Gunungkidul Bingung
- Desa Ngepossari, Semanu Bebenah di Berbagai Sektor Dengan Milyaran Rupiah
- UPIL DEWO UNIK
- Tingkat Kualitas Produk UMKM Dengan Standarisasi SNI
- Bantul Bertekad Pertahankan Sebagai Juara Umum
- Nyadran Bentuk Melestarikan Budaya
- 20 MILYAR UNTUK MEMBANGUN TAMAN BUDAYA




