Kembali Ke Index Video


atraksi cap gomeh meriahkan

Rabu, 24 Februari 2016 | 10:43 WIB
Dibaca: 1981
atraksi cap gomeh meriahkan

Jogja pastvnews.com,  MELIHAT minat masyarakat Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang selama ini berlangsung selama 5 hari, Gubernr DIY Sri  Sultan HB  X memberi masukan agar  PBTY  bisa diperpanjang menjadi tujuh hari.

Hal tersebut  dikemukakan, saat pembukaan  PBTY yang berlangsung di   Kampung  Ketandan, Yogyakarta.( 18/2) “ Alokasi  waktu  selama lima hari  masih   dirasa kurang  jika  dibanding jumlah  peserta  yang  berminat  mengikuti acara tersebut  dan panitia  tidak  bisa  begitu saja  membatasi  jumlah peserta.Peserta  sudah  berdandan  cukup lama,berjam-jam tetapi  mereka  hanya   tampil  tiga menit, tentu tak sebanding. 

Perlu waktu yang  lebih lama  untuk kegiatan ini,”  katanya. Menurutnya,pelaksanaan   PBTY yang sudah berlangsung   selama 11  tahun tersebut mendapat apresiasi  baik di kalangan masyarakat. PBTY tidak  hanya  icon artefak  budaya tetapi menunjukkan kebudayaan  itu tumbuh  di masyarakat, sehingga  potensi yang ada  perlu digali dan  dijaga  kelestariannya,” ujarnya.

Pembukaan  PBTY  XI yang ditandai  dengan pemencetan tombol papan oleh  Gubernur  DIY, yang mengeluarkan angka tahun 2016 membentuk stiliran monyet yang menandakan   pelaksanaan PBTY  XI yang berlangsung  lima hari  bertepatan  dengan  shio  kera  api.

Sedangkan dalam sambutan,  Ketua  Umum  PBTY  Tri Kirana sebagaimana diungkapkan, pelaksanan PBTY  sudah menasional bahkan mendapat perhatian dari Kementerian  Pariwisata. Di tempat terpisah seusai pembukaan, Soekeno  disela-sela transit  sambil menikmati lontong Cap Go Meh,  mengakui jika pelaksanaan PBTY relative singkat. “ Saya  ya menyambut positif pemikiran ngarso dalem ya  dan nanti kita adakan evaluasi” ungkapnya   Soekeno mengakui jika banyak peserta  dari luar DIY yang belum diakomodir. Hal senada juga  diungkapkan,   Tri Kirana Muslidatun selaku  ketua   Umu Pekan  Budaya  Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XI tahun 2016.

mengakui jika  waktu  hanya lima hari,  dirasa kurang, namun demikian  ide dari ngarso dalem merupakan cambuk bagi panitia.” Saran  Gubernur merupakan cambuk bagi seluruh panitia untuk lebih maksimal kegiatan, insya  Allah  tahun depan bisa terlaksana.   “ ungkapnya.

Penelenggaraan PBTY  XI  diKampung Ketandan Yogyakarta,  18  22 Februari mengangkat tema “  Meningkatkan  Budaya  Kebersamaan “  sebenarnya memiliki peran strategis  mewariskan  seni budaya bagi generasi muda. Khususnya,    generasi muda   etnis  Tionghoa di Yogyakarta.Lebih dari 200 stand yang sebagian besar   didominasi warna merah tersebut membentang  di sepanjang Jalan Ketandan.Di depan  pintu masuk  stand dan panggung utama   pengunjung akan disambut, patung kera yang tengah memanjat.

Patung kera  bersungut, tersebut  sebagai icon penanda tahun kera api. Pernik-pernik  yang menghiasi  stand  di dominasi  merah tersebut,  Selain  berbagai kesenian   seni budaya  Tionghoa, juga tampil seni tradisional,tari genederang,  Koor Fu  Qing,  Tarian Tiongkok, dance  Wu  Dong Chun Tian.

Tari Gending  Sriwijaya,  yang  tak kalah menariknya  atraksi  macan Barcan Tidar yang tampil lincah, atraktif dan energik,liong  putri  Hoo Hap  Hwee. Hampir setiap malam ditampilkan  Wayang Poo Tay Hie,Barongsay. Parade Busana  Daerah Tiongkok,  Tai Chi JIH,  Sulap  Jack  the  Magician,  PITI Yogyakarta. Lomba   Bahasa Mandarin, Tarian  Qiao  Guang, Tari topeng,Gambang Semarang,  tarian  Torompio, Zhong  zhong 1st Grade, Jiu Zhai Gou Tibet, Gemblak, Juga dimeriahkan  Jogja  Dragon  Festival yang  memperebutkan  piala Raja, tercatat lebih dari  20 grup akan tampil dalam  Jogja  Dragon Festival, barangsay  dengan panjang   15 meter dari TNI-AU.

Karnaval ini  dimulai    dari  Taman Parkir  Abu Bakar Ali, Malioboro dan berakhir  di Alun-alun Utara. ( isan r)




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi