Kembali Ke Index Video


Siarkan Agama Islam "Tiap Ramadan Buka Bersama Dengan Menu Takjil Bubur

Kamis, 17 Juli 2014 | 18:42 WIB
Dibaca: 1987
Siarkan Agama Islam "Tiap Ramadan  Buka Bersama Dengan Menu Takjil  Bubur
Bubur di masjid Sabiilurrosyad Kauman Wiirejo Pandak Bantul Jogjakrta setiap di sajikan ramadan

PASTVNEWS.COM, Warta daerah sebagai ulama besar yang diyakini sebagai Waliyulloh, Panembahan Bodho yang juga merupakan murid Sunan Kalijaga memang memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyebaran agama Islam hal ini Beliau buktikan dengan tetap memilih tinggal di Kauman daripada pulang ke Demak.

Apalagi kondisi masyarakat saat itu belum paham akan ajaran agama Islam sehingga Panembahan Bodho merasa berkewajiban menyampaikan serta menyiarkan agama Islam dengan tetap memperhatikan dan tetap menghormati pemeluk agama Hindu.

Di dalam masjid yang dibangunnya hanya berukuran 7x7 m, Panembahan Bodho pun menyiarkan ajaran Islam. Namun karena ajaran Islam masih terasa asing, warga pun masih banyak yang enggan datang, apalagi kondisi perekonomian saat itu masih serba kekurangan. Kehidupan masyarakat masih jauh di bawah kesejahteraan. Sehingga warga pun lebih mementingkan mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup daripada belajar agama.

Sebagai ulama besar, Panembahan Bodho pun tak kurang akal. Memasuki bulan Ramadhan Panembahan Bodho mengelar takjil dengan menu bubur lengkap dengan sayur lodeh. Dan warga pun dikumpulkan kemudian diberikan ajaran-ajaran  agama Islam.  Kegiatan takjil itupun diadakan selama satu bulan penuh.

Hingga akhirnya semakin banyak  yang bersedia belajar ajaran Islam. Karena dinilai sebagai media yang efektif dalam mengumpulkan warga guna menyebarakan ajaran Islam kegiatan takjil berlangsung pada tahun-tahun berikutnya.

Bahkan setelah sepeninggalan Panembahan Bodho,  warga selalu mengelar  takjil. Karena merupakan warisan yang memiliki manfaat besar dan sebagai wujud penghormatan kepada Panembahan Bodho, meski saat ini warga Kauaman hidup sejahtera, takjil dengan bubur bersayur lodeh itupun tetap dilestarikan.

Menurut salah takmir masjid Sabiilurrosyad, Nur  Jauzak, takjil bubur memang memiliki pesan religius serta merupakan ajaran  yang adiluhung. Di mana  masyarakat juga masih memilki animo yang tinggi karena takjil bubur memiliki simbol-simbol dalam menyiarkan ajaran agama.

Lebih jauh Nur Jauzak menjelaskan bubur memiliki makna lembut seperti teksturnya. Di sini mengandung arti bahwa ajaran agama Islam harus disampaikan dengan penuh kelembutan sehingga mudah diterima oleh masyarakat awam, seperti halnya bubur yang cocok di perut orang yang sedang berbuka puasa. Makan lain bubur, lanjutnya, adalah beber atau menjelaskan.

Adapun arti yang tersirat di sini adalah diberikan penjelasan-penjelasan tentang ajaran agama Islam. Sehingga sebelum berbuka, diadakan pengajian sebagai wahana penyampaian ajaran dan syiar agama Islam.

“Bubur juga bernakna babar atau merata. Artinya, ajaran Isalam harus disampaikan ke seluru lapisan masyarakat tanpa terkecuali”  ujar Nur Jauzak yang merupakan keturunan Panembahan Bodho generasi ke 13 ini.

Ditambahkan Ayah seorang putra ini, takjil dengan bubur serta sayur lodeh dan saat ini tambahan berupa lauk dilaksanakan selama satu bulan penuh. Akan tetapi khusus tanggal 20 Ramadhan atau malam selikuran ( malam 21) takjil bubur diganti nasi.

 Hal ini sebagai tanda atau pengingat untuk menghadapi 10 hari terakhir puasa yang penuh berkah.  Dan di malam 21 tersebut warga juga mengadakan kegiatan lain, mulai khataman kitab kuning, rodhat hingga Nuzulul Quran.

Petugas Masak Turun Temurun

Bila di masjid-masjid lain kebutuhan takjil dikerjakan secara bergilir atau dimasak secara bersama, namun tidak dengan masjid Sabiilurrosyad. Meski petugas masaknya tenaga sukarela, namun mereka petugas masak “warisan”. Petugas masak tersebut adalah keturunan dari petugas sebelumnya. Sehingga tugas dikerjakan secara turun temurun. “Untuk saat petugas masak tersebut adalah Zurkoni, Wardani dan Kasanudin” sambung Nur Jauzak.

Meski para petugas masak sukarela namun saat petugas masak digantikan oleh muda-mudi kegiatan takjil terhenti di tengah jalan. Sehingga petugas masak harus kembali dikerjakan mereka bertiga. Dan sejak itu pernah ada yang pemuda yang ikut memasak namun hanya membantu mempersiapkan hidangan.

Nur Jauzak juga menuturkan untuk memasak bubur hanya memerlukan sekitar 3 kg beras dan 3 butir kelapa perhari. Dan segala kebutuhan seperti beras, kelapa serta sayur mayur merupakan shodaqoh warga Kaumanan.

Meski hanya 3 kg beras namun bubur tersebut dapat memenuhi kebutuhan berbuka untuk 75 jamaah, mulai dari anak-anak hingga kalangan orang tua.

Meski saat ini  warga Kauman hidup sejatera, mengingatTakjil bubur merupakan warisan ulama besar, Nur Jauzak dan seluruh warga bertekad akan terus melestarikannya. Apalagi media ini saat ini masih efektif guna mengumpulkan warga dalam rangka menyiarkan ajaran agama Islam.anjar/tim red




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi