Teknologi Yumina Bumina Solusi Atasi Lahan Sempit
Selasa, 1 November 2016 | 21:28 WIBJawa Temgah-media pastvnews.com, Pembangunan sektor perikanan berbanding terbalik dengan sektor pembangunan lainnya, seperti pembangunan infrastruktur maupun property atau perumahan. Dampaknya, lahan untuk mengembangkan industri perikanan dari tahun ke tahun kian sempit.
Pesatnya pengembangan pembangunan infrasturktur serta perumahan menggusur pembangunan sektor perikanan, sehingga pembangunan perikanan kian tahun kian terpinggirkan.
Imbasnya, lahan untuk budidaya ikan makin terbatas dan kesegaran dan kualitas ikan, dalam hal ini ikan tawar, mengalami penurunan. Dampak lainya, karena ikan tidak lagi segar berakibat pada daya tawar ikan tidak lagi tinggi.

Namun keterbatasan atau sempitnya lahan untuk mengembangkan indutri perikanan bukanlah kendala utama bagi pelaku usaha perikanan. Dengan kemajuan teknologi, berbagai inovasi dan teknologi perikanan terus dikembangkan Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, seperti Aquaponik.
Dengan sistem Aquaponik pelaku usaha perikanan terus berupaya melakukan budidaya ikan tawar. Akan tetapi sayangnya system Aquaponik masih bisa dikata membutuhkan lahan yang terbilang luas. Sehingga penerapan Aquaponik hanya dapat dilakukan di daerah-daerah tertentu.
Teknologi Yumina Bumina
Guna mengatasi hal tersebut, Balai Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kelautan dan Perikanan, kini mengembangkan teknologi perikanan yang diberi nama Yumina Bumina. Dengan teknologi yang mulai diperkenalkan akhir 2014 ini, pelaku perikanan yang ingin membudidayakan berbagai jenis ikan tawar tidak lagi dipusingkan dengan keterbatasan lahan.
Kepala Seksi ( Kasi) Pelayanan Teknik dan Sarana Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Tawar, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Tawar Kementerian Kelautan dan Perikana Bogor, Nuryadi SPi, menuturkan teknologi Yumina Bumina menjadi solusi pelaku usaha perikanan yang memiliki keterbatasan lahan.
Dengan teknologi ini, pelaku perikanan dapat membudidayakan berbagai jenis ikan tawar dengan media kolam yang berskala rumah tangga.
Alumnus Universitas Brawijaya ini menambahkan di samping menghemat lahan, teknologi Yumina Bumina ini juga menghemat air hingga 700 persen. Di mana air dapat diolah oleh tanaman sayuran dan menjadikan air steril dari racun.
Sehingga ikan akan tetap hidup dan berkembang dengan baik. Dan kalau pun memerlukan tambahan air yang diberikan ketika terjadi penguapan.
Kolam Yumina Bumian ini bisa dibuat hanya dengan ukuran 2x2 m2 atau 3x3 m2, dengan ketinggian kurang lebih 1,25 meter. Akan tetapi untuk pelaku perikanan yangi ingin mengembangkan dengan ukuran lebih besar hal ini sah-sah saja. Namun sebaiknya kolam dibuat lingkaran karena kepadatannya lebih bagus dibandingkan yang berbentuk persegi” sarannya.
Keuntungan dari teknologi ini, sambung Nuryadi, pelaku perikanan bukan hanya akan memanen ikan. Sesuai dengan namanya, yakni Yumina yang berasal dari kata Yu yang artinya sayur dan mina yang berarti ikan, maka pembudidaya akan dapat mendapatkan keuntungan ganda, yaitu sayur dan ikan. Sedangkan Bumina, Bu berarti Buah dan mina berarti ikan.
“ Namun buah yang dimaksudkan adalah tanaman sayuran yang berbuah, seperti cabe, tomat serta terong atau tanaman semusim” tutur Nuryadi dalam Gelar Teknologi Perikanan dalam rangka Hari Pangan Sedunia ( HPS) ke 36 di Boyolali. anjar





