Kembali Ke Index Video


Menyongsong 1 abad pengelolaan hutan 2045 ugm rintis penyelamatan hutan jawa

Selasa, 11 April 2017 | 20:15 WIB
Dibaca: 1521
Menyongsong 1 abad pengelolaan hutan 2045 ugm rintis penyelamatan hutan jawa
SEMINAR HUTAM DENGAN UGM

Media pastvnews.com,  hutan di Indonesia  cukup mengkhawatirkan jika  tidak diselamatkan, kondisi ini  jika  dibiarkan akan berdampak terhadap  produksi pangan yang merupakan konsekuensi dari kamampuan  alam dalam menyediakan  pasokan air pada musim kemarau dan diperparah lagi  adanya perubahan  iklim.

Pulau Jawa dengan jumlah  penduduknya    lebih 50 persen   dibandingkan dengan pulau lainya (Sensus  Penduduk,2010), disebutkan dalam  kawasan hutan  negara terdapat  6000 desa hutan,  dengan jumlah penduduk 35 jiwa lebih,dan lebih dai  60 persen  dari jumlah  penduduk yang tinggal  di desa banyak memanfaatkan  kawasan hutan  untuk lahan pertanian  semusim melalui tumpang sari,

Mengambil kayu  bakar, mengumpulkan dedaunan  untuk pakan ternak menggembalakan ternak,dan menebang  (mencuri) kayu. Keterbatasan akses masyarakat terhadap  sumberdaya  hutan melahirkan kantong kantong kemiskinan.

Hal tersebut disampaikan,  Dekan Fakultas Kehutanan UGM,  Dr. Budiadi  S.Hut.,M.Agr.Sc  dalam Deklarasi  Penyampaian Komitmen Bersama Penyelamatan Hutan di Jawa untuk Penurunan Emisi  Gas  Rumah Kaca dan Kesejahteraan  Masyarkat yang berlangsung  di  Auditorium Fakultas Kehutanan  UGM, (Kamis 6/4). “ Sejak setahun lalu,  dipercaya untuk  mengelola kawasan hutan untuk pendidikan  dan pelatihan.” ungkapnya.

Menurutnya, kawasan hutan Getas –Ngandong  seluas  10.901  hektar sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTH) menjadi prioritas utama dan ditetapkan  menjadi hak kelola  UGM. Diakui, meski mendapat mandat untuk mengelola hutan, menurutnya diperlukan  usaha keras  untuk bisa  mengembalikan kawsan  hutan tersebut sebagai  hutan yang berbasis  ekosistem.

Yang meliputi al, rehabiitasi hutan  rusak dengan penanaman  jati unggul, peningkatan  stok  karbon  tanaman  bawah  (understory) tumpangsari dan tumpang gilir serta upaya  produksi pangan  terutama padi  lahan kering,

Sebagai model produksi  pangan intensif dengan tingkat emisi  gas rumah kaca N2O,CH4 dan konsumsi  air yang rendah,  upaya  konservasi  tanah  dan air  dengan cara  meminimumkan  laju  run off dan erosi  dengan desain  pengairan  DAS mikro serta   system  pertanaman serta perbaikan  akses dalam pengelolaan  lahan.

Dalam usaha tersebut, tidak hanya mengembalikan,  habitat kondisi kembali seperti semula,namun pengelolaan hutan akan diterapkan  program reforma  agraria guna peningkatan kesejahteraan masyarakat yang yang tinggal di sekitar hutan.” Pelaksanaan  model kita  fokuskan untuk melakukan  perbaikan sistem kelembagaan  di  8 desa, yaitu  Getas, Tlogotuwung, Nginggil,Ngrawoh, Selopuro,Papungan, Kalangan   dan  Cantel,” katanya.

Sementara itu, kepada  media pastvnews.com, Dekan  Fakultas Kehutanan, UGM,  Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut. ,M.Sc mengatakan pengelolaan  hutan Getas  Ngandong diperlukan  dukungan berbagai pihak,  yakni membantu dari pinggiran dengan menempatkan kelembagaan  desa  sebagai salah satu  aktor utama  dalam  pengelolaan hutan Negara,

Pemanfaatan lahan untuk   pertanian,produk hutan,  daur pengelolaan. Diharapkan,  dalam jangka panjang akan menjadi harmonisasi  pengelolan  hutan  mendukung  ekologi, ekonomi, peningkatan   kesejahteraan masyarakat, mengurangi  emisi  gas rumah kaca.Sedangkan Tim  Leader  The Indonesia Climate  Change Trust Fund (ICCTF) Sudaryanto,  menyatakan  dukunganya  terhadap upaya  Fakultas Kehutanan UGM untuk melakukan restorasi  hutan-hutan di Jawa. Isan Riyanto


Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi