Nyadran Gedhong Pulosari, Sakral dan Semarak
Sabtu, 10 September 2016 | 11:19 WIBSemin Gunungkidul media Pastvnews.com - Berbagai tradisi nyadran digelar masyarakat menjelang datangnya bulan Ramadan, namun tidak demikian untuk di Gunungkidul. Acara adat tradisi nyadran tidak harus menjelang bulan ramadhan.
Masyarakat Gunungkidul nyadran berdasarkan hari, bulan atau tanggal dan biasanya setelah habis panen pertanian. Di Kampung Dondong, Semin, Gunungkidul ini melakukan nyadran mengambil bulan Besar, harinya diantara Kamis Legi atau Senin Legi.
Upacara nyadran dipusatkan di makam GRM Sumadi dan GRAy Sudarminah yang makamnya disebuah bukit diwilayah Desa Pundungngsari, Semin, Gunungkidul. Acara nyadran ini digelar, Kamis Legi (08/09/2016). Makam tersebut merupakan makam yang bersejarah di mana di tempat ini dimakamkan seorang luhur yang masih trah Kerajaan Mataram.
Menurut silsilah yang sudah terpajang, masih turunan Sri Sultan Hamengkubuono II. Tradisi Nyadran Makam ini diawali dengan kirab Jodang dan gunungan hasil bumi. Kirab Jodang di mulai dari rumah juru kunci makam, dusun kedondong Sedono, Pundungsari, menuju ke Pendapa Makam GRM Sumadi dan GRAy Sudarminah.
Kirab atau mengarak Jodang dan gunungan ini dikawal oleh Kerabat Kraton Ngayogyokarta Hadiningrat, Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Gunungkidul dan masyarakat dari Dusun Kedondong, DusunTepus, dan Dusun Kutugan . Setelah sampai di pendopo makam tersebut, Jodang dan gunungan didoakan. Selesai doa dan kenduri, gunungan berisi hasil bumi dan makanan diperebutkan oleh ratusan warga yang sudah menunggu sejak pagi.
Nyadran ini sebagai bentuk bakti pada para leluhur (birrul walidain) dengan mengirim doa disertai dengan sedekah berupa makanan. Nyadran Gedhong Pulosari merupakan budaya religius yang menjadi aset dan terus dilestarikan," kata Kepala Desa Pundungsari, Eckwan Mulyana, Kamis, 08/09/2016 sore.
Acara nyadran ini, lanjutnya, tidak hanya diikuti warga 3 padusunan saja, tetapi dari berbagai daerah, ada yang dari Klaten, bahkan dari Kalimantan, imbhnya.
“ya mungkin pinuwunanipun (permintaannya) terkabul karena lantarannya dari situ, terus biasanya membawa ayam panggang dan nasi,”masi kata Kades Pundungsari.
Acara nyadran Gedhong Pulosari ini menurut Ngarso Dalem waktu itu supaya tetap dilestarikan, karena ini merupakan sejarah, pungkasnya. W.Joko Narendro

Video Terkait
- Gelisah tentang keyakinan dan ajaran ' Yuniarto memilih hijrah masuk Islam
- Desa Bulurejo, Semin Gunungkidul Terbaik Pengelolaan Administrasi
- Empat hal yang perlu di miliki sebagai pegangan hidup apa itu ?
- Resmikan Balai Dusun Warga Kemuning Patuk Gunungkidul Pentas wayang





