Kembali Ke Index Video


Wuuenaknya Ayam Goreng Yu Sum "Laris Manis Pelanggan Datang Dari Para Birokrat

Senin, 11 April 2016 | 20:36 WIB
Dibaca: 2425
Wuuenaknya Ayam Goreng Yu Sum "Laris Manis Pelanggan Datang Dari Para Birokrat
AYAM GORENG RACIKAN YU SUM WUUENAK DAN MANTAB

Wonosari-Pastvnews.com warta kuliner berawal dari jualan ayam keliling sekarang berkembang pesat menjadi kuliner yang diburu para langganan dari berbagai daerah bahkan para pejabat dari luar Gunungkidul.

Sejak tahun 2001 Bu Sumini atau panggilan akrapnya Bu Sum,  mulai dagang ayam kampong ratengan (ayam kampong yang sudah matang, red) dengan perih dan getirnya jualan ayam kampong dengan berkeliling  dari rumah ke rumah disekitar lingkungan Wonosari, bahkan sampai ke daerah Kecamatan Nglipar, kata Bu Sum mengawali ceritanya.

Karena mungkin yang membeli merasa iba pada saat itu terhadap Bu Sum, maka pembeli atau langgananya sering  memberi intip, roti, donat dll, masih cerita Bu Sum.

 

JURAGAN AYAM GORENG YU SUM WONOSARI GUNUNGKIDUL

Kemudian atas saran teman supaya dagang lesehan saja supaya tidak terlalu capek, karena setiap dagang keliling membawa ayam sampai 20-an ekor setiap harinya.

Atas saran itulah Bu Sum dan suaminya mulai buka lesehan disamping stadion Wonosari. Pada saat buka pertama kali kebetulan hujan yang sangat lebat sekali sampai-sampai tendanya mau kabur kebawa angin.

“sampai tenda itu mau kabur terbawa angin, mas, saking hujan dan angin sangat kencang sekali, tetapi anehnya saya tidak merasa sedih, hati saya merasa senang saja,” kata Bu Sum terbata-bata.

“jualan pertama itu saya mendapatkan uang Rp.100rb gambar cengkeh, tidak kurang tidak lebih, saya merasa bersyukur, maka saya sholat tahajut, mudah-mudahan ini modal yang nanti uangnya tidak akan habis”, masih kata Bu Sum.

Semakin lama senakin rame jualannya Bu Sum, karena masakannya yang khas ayam kampong asli Gunungkidul. Bu Sum jualan disamping stadion Wonosari sekitar 10 tahun.

Kemudian ada gusuran, boleh dagang tetapi harus  bongkar pasang, karena merasa keberatan maka pindahlah diseberang jalan dengan ngontrak setahun Rp.11juta sampai sekarang.

Langganannya tidak hanya warga Gunungkidul saja, tetapi dari berbagai daerah, solo, jogja, Klaten, semarang, madiun, dan lain-lain.

“alhamdulilah mas, langganan tidak hanya dari Gunungkidul saja, pejabat Gunungkidul hampir semua pernah singgah disini, termasuk dari era bupati Suharto sampai Bu Badingah sendiri dulu sering makan disini”, imbuhnya.

Menurut cerita Bu Sum, Bupati Klaten juga sudah tiga kali makan disini, belum kalau ada wisatawan dari luar sering menghubungi kuliner ini.

Sehari kalau hari biasa bisa menghabiskan 50an ekor ayam, kalau hari sabtu dan minggu bisa mencapai 70 ekor ayam, ini merupakan prestasi luar biasa, yang tadinya hanya pedagang keliling sekarang sudah bisa menciptakan kuliner yang diburu para pelanggan.

Ketika ditanya rahasianya, Bu Sum mengatakan, tidak ada rahasia khusus, rahasianya jujur, ayamnya sehat, dan dimasak dengan kayu bakar, pungkas Bu Sum.

 Bu Sum menggunakan ayam khusus dari Gunungkidul dan beliau sendiri yang membeli ke pasar pring (Pasar Ayam, red). WJN

 

 




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi