MUNAS APTRI IV DIGELAR 'STOP IMPOR RAW SUGAR
Senin, 21 Desember 2015 | 12:47 WIBSleman, PASTVNEWS.COM - MUNAS APTRI IV sebagai memontem yang tepat guna menghasilkan progam kerja yang mampu meningkatkan hasil produksi. Sektor pertanian adalah sektor yang mampu menampung tenaga kerja, yang perlu dikembangkan termasuk petani tebu.
Demikian sambutan Gubernur DIY dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan Kadinas Perkebunan DIY Ir. Sutarto, SP. Menurutnya permintaan gula terus meningkat, untuk itulah perlu pemberdayaan dan menciptakan petani yang kompetetip dan handal sehingga harus mampu membentuk pribadi petani yang memiliki jiwa dan semangat pengabdian.
Munas yang digelar di Yogyakarta mempunyai arti penting, yakni mengevaluasi perjalanan program yang telah dijalankan.Melalui Munas APTRI IV, sultan berharap dapat menghasilkan kpengurusan dan memajukan perkebangan petani, dan mensejahterjkan petani” ungkap Gubernur.
Munas yang berlangsung di Hotel Alana,Sleman, DI Yogyakarta dihadiri 250 dari perwakilan DPD APTRI, dan direksi pabrik gula se Indonesia. Mengusung tema :“Tingkatkan Daya Saing Industri Gula Naional melalui Penerapan Teknologi dan Efisiensi Pabrik Gula Menuju Kesjahteraan Petani Tebu “ .
Dalam sambutannya, Sumitra Samadikun, selaku Ketua Umum DPN APTRI mengatakan tantangan ke depan APTRI makin berat, tahun 2016 sudah di depan mata yakni, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mana perdagangan bebas Asean baik barang, jasa tenaga kerja bebas tanpa beban bea masuk, yang dikhawatirkan industry gula nasional sulit berkembang.
Menurutnya, diadakan Munas APTI IV, memberi pesan kepada petani tebu untuk tidak lagi bergantung pada harga yang tinggi, dengan tehnologi canggih bisa menciptakan produkstivitas yang lebih baik,kuantitas, dan tidak mengesampingkan kualitas tebu.
Diakui, dalam kurun waktu 2013,2014 petani tebu mengalami kerugian besar dikarenakan kebijakan pemerintah tentang impor Raw Sugar (RS) sebagai bahan baku gula rafinasi yang menimbulkan banjirnya gula di pasar konsumsi dan terjadi kejenuhan pasar.
Sementara itu, dari hasil lelang gula tahun 2012 tertinggi 11.800 terendah 9.800. Tahun 2013 tertinggi 10.250 terendah 8.200. Tahun 2014 tertinggi 8.650 terendah 7.500 jauh dibawah HPP yang 8.500/Kg. Sedangkan rendemen yang diperoleh petani tebu berkisar antara 6 – 7 % bahkan rendemen individu berkisar 4 persen.
Adanya bantuan, program akselerasi berupa kredit dan bongkar ratoon erta bantuan alsintan yang diterimakan melalaui KPTR2 dirasa bermanfaat bagi peani, “ Program yang diberikan pemerintah bagi petani tebu akan terus berlanjut.
namun demikian sulitnya kredit KKPE dan masalah pupuk bersubsidi yang dibatasi luasan maksimun 2 hektar per petani belu memberkan kenyamana dan keamanan petani tebu dari ranah hukum.”tegas Sumitro. Menurutnya, di tingkat pabrik, gula belum ada peningkatan pencapaian rendemen,pabrik gula masih jalan di tempat dengan bagi hasil yang mmberatkan petani tebu.
Dalam kondisi, kata Sumitro, petani tebu rakyat masih perlu mendapatkan kebijakan pemerintah tentang proteksi gula agar tidak dimasukkan dalam perdagangan bebas. “ Sekarang tinggal bagaimana sikap pemerintah menghadapi hal demikian, ditunggu keberpihakan pemerintah terhadap petani tebu rakyat, misalnya Stop impor raw Sugar . “ tegas Sumitra Ketua DPN APTRI. (isr/dn)






