Kembali Ke Index Video


MUNAS APTRI IV DIGELAR 'STOP IMPOR RAW SUGAR

Senin, 21 Desember 2015 | 12:47 WIB
Dibaca: 1638
 MUNAS  APTRI IV DIGELAR 'STOP IMPOR  RAW SUGAR
MUNAS DAN SAMBUTAN KETUA DPD APTRI

Sleman, PASTVNEWS.COM  - MUNAS APTRI  IV sebagai memontem yang tepat guna menghasilkan progam kerja yang mampu meningkatkan hasil produksi. Sektor pertanian adalah sektor yang mampu menampung tenaga kerja,  yang perlu  dikembangkan termasuk  petani  tebu.

Demikian sambutan Gubernur DIY dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan Kadinas Perkebunan  DIY Ir. Sutarto, SP.  Menurutnya permintaan gula terus meningkat, untuk itulah perlu  pemberdayaan  dan  menciptakan  petani yang kompetetip dan handal sehingga harus mampu membentuk pribadi petani yang memiliki jiwa dan semangat pengabdian.

Munas yang digelar di Yogyakarta mempunyai arti penting, yakni mengevaluasi perjalanan program yang telah dijalankan.Melalui Munas APTRI IV,  sultan berharap  dapat  menghasilkan  kpengurusan  dan memajukan perkebangan petani, dan mensejahterjkan petani”   ungkap Gubernur.

Munas yang berlangsung di Hotel Alana,Sleman, DI  Yogyakarta  dihadiri 250  dari  perwakilan DPD APTRI, dan direksi pabrik gula se Indonesia. Mengusung tema :“Tingkatkan  Daya Saing  Industri  Gula  Naional melalui  Penerapan  Teknologi  dan Efisiensi Pabrik Gula  Menuju  Kesjahteraan Petani Tebu “ .

Dalam sambutannya,  Sumitra  Samadikun, selaku Ketua  Umum  DPN APTRI mengatakan tantangan ke depan APTRI  makin berat, tahun 2016   sudah di depan mata yakni, Masyarakat  Ekonomi  ASEAN (MEA) yang mana  perdagangan bebas Asean  baik barang, jasa  tenaga kerja bebas tanpa  beban bea masuk, yang dikhawatirkan industry gula nasional sulit berkembang.

Menurutnya,  diadakan Munas   APTI IV,  memberi pesan  kepada petani   tebu untuk tidak lagi bergantung  pada  harga  yang tinggi,  dengan tehnologi  canggih  bisa menciptakan  produkstivitas yang lebih baik,kuantitas, dan tidak mengesampingkan  kualitas tebu.

Diakui, dalam kurun waktu 2013,2014 petani tebu mengalami kerugian  besar dikarenakan  kebijakan pemerintah tentang impor Raw Sugar (RS) sebagai bahan baku  gula rafinasi yang menimbulkan  banjirnya  gula di pasar konsumsi dan terjadi  kejenuhan  pasar.

Sementara  itu, dari hasil lelang gula tahun 2012   tertinggi  11.800 terendah  9.800. Tahun 2013  tertinggi  10.250 terendah  8.200. Tahun 2014 tertinggi  8.650 terendah  7.500 jauh dibawah  HPP yang  8.500/Kg. Sedangkan rendemen yang diperoleh  petani tebu  berkisar  antara 6 – 7 % bahkan rendemen individu  berkisar  4 persen.

Adanya bantuan, program   akselerasi berupa kredit dan bongkar  ratoon erta bantuan  alsintan yang diterimakan  melalaui KPTR2 dirasa  bermanfaat bagi peani,  “ Program  yang diberikan  pemerintah  bagi petani  tebu  akan terus  berlanjut.

namun demikian  sulitnya  kredit  KKPE  dan masalah  pupuk bersubsidi yang dibatasi  luasan maksimun 2  hektar per petani  belu memberkan kenyamana dan keamanan  petani tebu dari  ranah hukum.”tegas  Sumitro. Menurutnya,  di tingkat  pabrik,  gula  belum ada peningkatan  pencapaian  rendemen,pabrik gula  masih jalan  di tempat dengan bagi  hasil yang  mmberatkan petani tebu.

Dalam kondisi, kata  Sumitro,  petani tebu  rakyat  masih  perlu mendapatkan  kebijakan pemerintah tentang  proteksi gula agar  tidak dimasukkan  dalam perdagangan bebas.  “ Sekarang tinggal bagaimana sikap pemerintah menghadapi hal  demikian, ditunggu keberpihakan pemerintah terhadap petani tebu rakyat, misalnya  Stop impor raw Sugar . “ tegas  Sumitra Ketua  DPN  APTRI. (isr/dn)




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi