Kembali Ke Index Video


Kromo Taruna bertahan dari gusuran Belanda “Sedumuk Batuk Bathuk Senyari Bumi.

Selasa, 10 November 2015 | 18:13 WIB
Dibaca: 2413
Kromo Taruna bertahan dari gusuran Belanda “Sedumuk Batuk Bathuk Senyari Bumi.
tari tayub masih di lestarikan

MEDIA-PASTVNEWS.COM, MERI DESA PUTRI TANJUNG SARI MERIAH, SEBUAH UPACARA tradisional Bersih Desa  Tanjungsari di  Dusun Dlimas, Keamatan Ceper  bermula dari tidak semeriah sekarang. Keramaian  baru terjadi setelah  geger  Kromo  Taruna, seorang bekel dan juragan nila di dusun Dlimas yang “mbalela” atas  kesewanang-wenangan colonial Belanda.

Peristiwa terjadi  pada  tahun 1915,ketika Kolonial  Belanda yang  akan memperluas pembangunan  pabrik gula (PG) Ceper. Tentu saja untuk memperluas bangunan  pabrik,dibutuhkan lahan milik warga. Tanah  arga  dikorbankan  untuk keperlun terebut.

Ki Kromo Taruna mendengar  kabar  perluasan  harus mengobankan tanah  penduduk, tentu saja mendapat  tantangan keras dari Ki  Kromo Taruna. Terlebih lagi dengan  ganti rugi yang tidaka memadai, tentusajamembuat warga marah. 

Salah  seorang  yang dirugikan adalah  Ki  Bekel  Kromo Taruna, yang   juga dikenal sebagai   juragan  nila (wenter),  sekaligus sebagai  sesepuh warga  Dlimas.

Karena besarnya ganti rugi yang tak memadai mendapat tentangan dari  warga yang dipimpin  Ki Bekel  Kromo Taruna. Karena Ki Kromo Taruna berulangkali dipanggil  Belanda  untuk diajak berunding,namun panggilan tak digubris, sehingga membuat Belanda marah. Karena dinilai, proses ganti rugi tak memadai,  akhirnya  Kromo Taruna, tetap bersikeras tak memenuhi panggilan, Kromo Taruna tak mau menerima ganti rugi, tetapi tetap  tidak mau  menerimanya dan tidak  mau  pindah tempat, dengan semboyan “ Sedumuk Bathuk Senyari  Bumi” Bahkan , Ki Kromo  Taruna memberi semangat perlawanan terhadap Belanda dan  tetap mempertahankan  tanah leluhurnya.

Ki Kromo Taruna mengatakan kepada   kerabatnya dan berpesan, ia akan  bertapa  di Makam  Kyai Dlimas,  untuk minta doa restu agar supaya tidak digusur dan tetap dapat  mendiami tanah leluhurnya.

Namun bila terjadi penggusuran agar  memberitahu dengan cara  menabuh  kenthongan (kenthong titir).Baru beberapa hari Ki KromoTaruna menjalankan laku “tapa”, mendengar jika  rumah penduduk akan dibongkar paksa,  Kromo Taruna dengan dibantu  kerabat dan  familinya dikumpulkan.

Kemudian mereka berembug, KromoTaruna menyatakan niatnya akan melakukan perlawanan dengan   cara halus. Namun karena  jalan  halus   sudah tidak mempan, akhirnya   Ki Kromo  Tauna menempuh jalan dengan melakukan perlawana,  bunyi kethongan ditabuh, sebagai pertanda jika perlawanan segea dimulai.

Ki  Kromo Taruna bangun dan mengakhiri pertapaannya,dan segera menuju ke lokasi keributan. Amarah  warga tak bisa dibendung, perlawananpun pecah, antara  pengikut  Rangga Srayon  yang pro Belanda dengan  Ki Kromo Taruna di pihak warga.

Dalam   tawur tersebut banyak memakan korban  jiwa,  dua  pemimpin Belanda  terbunuh oleh keris Ki Kromo Taruna.

Belanda memang nekat,meski  banyak korban dipihaknya,namun usaha untuk berusaha membunuh  Ki  Kromo Taruna terus  dilakukan, baik dengan cara licik, ataupun dengan menembaki  dengan senjata, namun tak  satu butir peluru yang mampu menembus tubuh Ki Kromo Taruna.

Usaha  untuk membunuh Ki Kromo Taruna terus  dilakukan,  yakni dengan  membujuk Ki Jaya Menggala yang merupakan adik seperguruan Ki  Kromo Taruna.

Ki Jaya Menggala yang tahu persis titik kelemahan Ki  Kromo Taruna, akhirnya  Ki  Kromo Taruna ditangkap secara beramai-ramai, hanya dengan sebilah  galah  bambu  ia terhalang kesrimpet dan jatuh,kesempatan itu  oleh  Ki Jaya Menggala yang juga dikenal sebagai  mandor tebu  asal Pokak berhasil memegang pundak Ki Kromo Taruna.

Karena tahu titik kelemahan, setelah dipegang pundaknya Ki  KromoTaruna tidak bisa berkutik, dan ditangkaplah  Ki KromoTaruna dan dijatuhi hukuman penjara  selama  12 tahun.

Selama dalam  masa tahanan ia  diperlakukan  secara istimewa.  Sepulang menjalani  hukuman Ki KromoTaruna  mengungkapkan  rasa syukurnya dengan mengadakan  upacara  Bersih Desa Tanjungsari secara besar-besaran.

Acara   bersih desa yang diadakan setiap tahun berlangsung  meriah, bahkan tari gambyong  yang semula  menjadi tontonan, sebagai rasa syukur telah  bebas dari  penjara, Ki Kromo Taruna  memenuhi  nazarnya dengan memboyong  taria Gambyongke rumahnya. Sedangkan malam harinya diselenggarakan “tayuban”. Seak itulah  upacara  BersihDesa di Dususn Tanjungsari,  Dlimas  semakin ramai.

Hingga kini  jumlahnya pengunjung  terus meningkat,al ini  ketika berlangsungnya  Bersih Desa  yang belangsung Jumat pekan lalu di dusun Dlimas. Pengunjung yang datang dari luar desa Dlimas berdatangan ingin menyaksikan,  baik  ketika  berlangsungnya prosesi, hinga berebut seribu ingkung  yang disajikan  penduddk setemat.

Seusai  Jumatan, dan didaoana olehke empatapemuka  agama, dalam sekejap  ingkungyang ditata  secara  apik dengan dilengkapi  berbagai  jenis  jajanan  kue, makanan,lemper, bakmi, onde-onde, tetel, klepon, srundeng, minuman, dalam sekejap ludes diserbu  pengunjung yang sudah sejak awal diperuntukan bagi pengunjung.

Sebagaimana diungkapkan, Sekretaris  Panitia  Haryanto , peringatan than ini lebih ramai ketimbang  beberapa tahun lalu. Bahkan kali ini merupakan puncaknya setelah selama seminggu di halaman diadakan  keramaian.

” ungkapnya.(isan )


Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi