Eksistensi Seni Budaya Ketoprak Lahir Dari Rakyat
Rabu, 13 Mei 2015 | 14:33 WIBJogja – media pastvnews.com, seni budaya masih melekat di kalangan seniman meski Kemajuan jaman dengan arus globalisasi yang deras terus mengerus seni tradisional bahkan terkesan akan menghilangkan budaya-budaya adiluhung, termasuk di dalamnya kesenian tradisional ketoprak.
Di samping itu generasi muda saat ini cenderung lebih menyukai budaya asing yang dianggapnya lebih modern dan tidak ketinggalan jaman. Sehingga eksitensi kesenian tradisional lama kelamaan akan semakin redup.
Satu contoh semakin redupnya kesenian tradisioanl yang terancam akan hilang adalah ketoprak Pendapan.
Ketoprak yang lahir dari desa yang pernah naik kelas, dipentaskan dihadapan kaum priyayi, ini boleh di bilang keberadaan tidak lagi mewarnai khasanah seni tradisi yang mana pementasannya selalu dinantikan masyarakat pedesaan.
Karena saat ini ketoprak Pendapan telah tergerus seiring menjamurnya seni kotemporer.
Menghilangnya ketoprak Pendapan saat ini rupanya telah mengundang keprihatinkan kaum muda yang peduli akan kesenian rakyat yang pernah mengalami kejayaan di tahun 1925an dan setelah itu kembali redup.
Dan baru di tahun 19970-an kembali mengalami kejayaan, karena di masa pemerintahan Soeharto, ketoprak dijadikan media untuk menyampaikan pesan-pesan atau program pemerintah. Setelah itu ketoprak Pendapan kembali tidak terdengar gaungnya.
Untuk kembali memasyarakatkan ketoprak Pendapan, agar kembali menjadi tradisi yang merakyat serta kembali melestarikan dan mengembangkan ketoprak Pendapan yang lama tenggelam, Dinas Kebudayaan DIY bersama para seniman yang tergabung dalam Puspaka (Perhimpunan Seniman dan Pelaku Ketoprak) Yogyakarta akan mengelar pementasan ketoprak Pendapan pada 15 Mei 2015 di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY.
Kepala Seksi Rekayasa Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Agus Amrullah mengungkapkan keseniaan tradisional, ketoprak sesunguhnya memiliki nilai-nilai luhur yang dapat dipakai sebagai pedemoman hidup bermasyarakat.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya antara lain sejarah, kepahlawanan serta kejuangan. Sementara nilai-nilai yang terkait kehidupan sosial kemasyarakatan yakni kejujuran, kebenaran, keadilan dan kesetiaan. Tidak terkecuali ketoprak Pendapan.
Ketoprak Pendapan, sambung Agus, sebagai kekayan sekaligus warisan budaya bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur dapat pula digunakan sebagai pedoman hidup di masyarakat. Sehingga ketoprak Pendapan perlu dilestarikan sebagai sarana memperkuat ketahanan budaya dan jati diri bangsa.
Sementara itu Bondan Nusantara menjelaskan ketoprak Pendapan ini mula adalah ketoprak yang lahir di pedesaan sehingga ketoprak ini sangat merakyat. Ketoprak ini sendiri merupakan ungkapan suka cita masyarakat pedesaan di saat menyambut bulan purnama.
Di sebut ketoprak Pendapan karena pementasan dilakukan di pendopo tanpa ada background dengan iringan gendhing-gendhing klasik, mengunakan keprak dengan kostum yang cenderung meniru wayang orang.
Pagelaran Ketoprak Pendapan yang akan berlangsung di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY akan mengambil lakon Kembang Watu dengan durasi sekitar 1,5 jam. Kembang Watu yang judul aslinya Retno Dumilah karya seniman ketoprak senior Widayat, mengisahkan niatan Panembahan Senopati Mataram yang akan menaklukan kadipaten Madiun di bawah pimpinan Panembahan Mas.
Dalam perjalanan waktu saat penaklukan akhirnya Panembahan Mas dapat didesak mundur. Meski terdesak Pangeran Mas tidak kembali akan tetapi bersembunyi di suatu wilayah.
Dalam persembunyian Panembahan Mas kemudian menyerahkan pusaka keris Kayi Kala Gumarang kepada putrinya, Retno Dumilah, untuk menghadapi Penembahan Senopati. Namun akhirnya Retno Dumilah menyerah setelah Penembahan Senopati berjanji akan menikahinya. anjar

Video Terkait
- SOHO Peduli Kesehatan, Adakan Pengobatan Gratis
- Jelang Hari Raya Qurban 2014 Pasar Kambing Tiban Panen Order




