Ajaran Astabrata
Kamis, 13 Oktober 2016 | 20:56 WIBMedia pastvnews.com, yuk kita ketahuai ajaran pemayangan dalam ajaran astra brata mana pengaruh watak, sifat, dan karakteristik yang dimiliki para pemimpin Jawa, belum lama sebuah dialog budaya digelar mengupas tuntas, “Ajaran Astha Brata Kadipaten Pakualaman, Relevansinya dengan Kepemimpinan Masa Kini”,. Dialog yang digelar rutin,diadakan setiap Selasa Wage, di Kepatihan Danurejan, Yogyakarta.
Dalam pemaparan, KPH Indrokusumo, menyatakan watak ideal dari masing-masing dewa itu harus dimiliki oleh para pemimpin seperti bijaksana,adil, cerdas, penuh kasih dan tegas dalam menegakkan hukum.Watak tersebut menurutnya, harus juga dimiliki oleh penyelenggara pemerintahan.
”Model kepemimpinn Jawa berdasarkan, teladan watak para dewa kelompok penjaga alam semesta, al, Batara, Indra, Batara Yama, Batara Surya, Batara Candra, Batara Bayu, Batara Wisnu, Batara Brama , dan Batara Baruna.”ujarnya.Berikut pemaparan yang dimiliki setiap dewa.
Batara Indra dengan indentitas kalam bulu angsa yang tertancap pada bola dunia serta “renggan” berupa mahkota di atasnya, Indra sebagai raja para kawi atau para pujangga tidak henti-hentinya memberikan pemahaman ilmu kepada siapapun yang dikehendakinya.
Dengan menggunakan teladan Batara Indra yang sangat memperhatikan pendidikan,seseorang pemimpin diharapkan selalu memperhatikan pendidikan orang-orang yang dipimpinnya untuk maju dan berkembang.Akan tetapi ,kesempatan itu diberikan dengan memperhatikan bakat dan karakteristik mereka.
Mereka yang dikaruniai oleh pikiran cemerlang akan diperlakukan secara berbeda dengan mereka yang tidak terlalu pintar.Demikian juga halnya dengan mereka yang malas belajar, mereka akan dididik dengan disiplin yang tinggi agar menyadari pentingnya menuntut ilmu.
Selain itu, seorang pemimpin juga dituntut untuk cerdik cendikia dan dapat menjadi tempat bertanya bagi siapapun yang memerlukan bantuan jawaban dan persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Kegemaran Batara Indra adalah membimbing dengan harapan agar mereka tidak khawatir dan salah tafsir dalam mengartikn serta menerapkan ajaran karena mereka telah berhasil memahaminya.Bodoh dan pandai adalah takdir Tuhan yang Maha Kuasa, meskipun demikian seluruh manusia harus tetap berusaha.
Batara Yama, Gambar tungku di atas perapian dengan lidah api sebagai sarana pembakarannya mewakili keberadaan Batara Yama sebagai penegak hukum dan penumpas kejahatan. Batara Surya, divisualisasikan degan renggan bunga matahari yang inti bunganya berwarna kuning emas.Melalui renggan
“ sekaligus mewakili bentuk dan warna “ koin uang emas” yang menjadi kesukaan Batara Surya,seperti yang tertera dalam teks.Melalui renggan “koin uang emas” diingat untuk giat bekerja mengupayakan, dan mengelola kekayaan secara benar.Batara Yama, tak henti-hentinya yang bijaksana ini membersihkan kotoran di bumi, yaitu dunia para pencuri.Kejahatan mereka yang suka mencuri itulah yang dibenci oleh Batara Yama. Yama selalu menghalau para pencuri, durjana, pembohong yang selalu berdusta dan segala perbuatan yang tercela lainnya.
Batara Candra : bunga soma bunga yang mekar dan harum di malam hari ini mewakili keberadaan Batara Candra yang selalu dirindukan.Ia pemberi kasih dan penghangat cinta .Melalui teks dan renggan ini diperoleh pemahaman perlunya menumbuhkan dan memelihara rasa kasih sayang antar manusia .
Seorang pemimpin idealnya memiliki daya pesona dan kepribadian yang menarik Dengan kelebihan itulah, dia akan mendapatan rasa simpati dan empat dari rakyat yang dipimpinnya.Mereka selalu merindukan kehadiran sang pemimpin yang akan berada ditengah tengah merek dengan kata yang lemah lembut dan menyejukkan.
Sang pemimpin akan terus menerus menebarkan benih cinta kasih sehingga rakyat yang dipimpin akan selalu setia, tunduk dan patuh. Negeri dengan pemimpin seperti ini akan menjadi negeri yang tentram dan damai. Di negeri ini tidak akan ada saling permusuhan di kalangan rakyatnya. Dalam kalbu mereka hanya bersemayam rasa cinta bukan saling hasut, iri atau dengki.
Batara Bayu : Diilustrasikan, Batara Bayu berpenampilann gagah perkasa, berhidung dhempok, bermata thelengan, bekumis dan berjenggot.Ia digambarkan berbeda dibandingkan dengan dewa-dewa yang lainnya, karena tidak mengenakan mahkota dewa.
Batara Bayu hanya bergelung rambut yang dinamakan gelung mangkara, ber-jammang sada sealer atau turidha, dengan kancing pada ujung gelung bermotif seekor garuda ,bersumping jenis pudhak sategal atau pandhan binethot. Sunggingan muka berwarna hitam melambangkan kedewasaan ,kematangaan dalam ilmu dan segala kehidupan.
Pada pinggangnya berselipkan keris, ber-badhong degan hiasan bunga, mengenakan celana dengan hiasan porong naga terlukis di atas paha. Taberi,kaku hati namun kekakuan itu hanyalah bersikukuh untuk suatu kebenaran, tegas dalam bertindak tidak mudah dipaksa, pendiriannya bak gunung besi yang tidak tergoyahkan , dan juga rajin dalam melakukan pekerjaan.
Batara Wisnu : digambarkan di dalam lukisan bebadan hitam cemani, berwajah “lanyap”,berhidung lancip dan bermata gabahan ataua liyepan.Ia mengenakan mahkoa”kethu dewa oncit”, ber-jamang sada sa eler,bersumping mangkra .Rambutnya berambuta terurai,bersampir,berjubah,serta bersepatu.Ia digambarkan duduk di dhampar dengan trap yang lebih tinggi.
Di hadapannya terdpat tonggak yang di atasnya berupa tungku dupa yang menyala. Ia digambarkan berada di dalam sebuah tempat bangunan pemujaan.Batara Wisnu adalah sosok dewa yang cerdas,tahu segala kejadian yang akan terjadi di dunia berdasarkan ketekunan dalam berolah bathin dan rasa.
Di samping itu ia pun mempunyai watak bijaksana, mampu berdiri sebagai pamomong yang memberikan pengayoman,adil,tajam dalam bathin dan pikiran,serta menjunjung kebenaran.





