Kandungan sulfur tinggi warga lakardowo mojokerto banyak mengalami penyakit kulit ?
Kamis, 11 Agustus 2016 | 11:11 WIBMojokerto - media pastvnews.com, kasus pencemaran lingkungan di desa lakardowo mojokerto jatim mendapat sorotan tajam, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) tidak melakukan pencemaran lingkungan di Desa Lakardowo, Jetis, Mojokerto.
Kepastian ini disampaikan Karliansyah Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran Kementrian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) pada Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan - KJPL Indonesia, seperti disampaikan dalam rilis KJPL Indonesia, Rabu (10/08/2016).
Menurut Karliansyah, kepastian tidak ditemukannya terjadinya pencemaran itu, didasarkan dari hasil uji laboratorium yang dilakukan Tim Independen KLHK pada sampel air sumur pantau PT PRIA dan air sumur warga di Desa Lakardowo, yang sudah dilakukan pada 14-15 Juni 2016 lalu.
Dikatakan Karliansyah, selain berdasar uji laboratorium, kepastian tidak terjadinya pencemaran lingkungan di Desa Lakardowo itu juga didasarkan dari kajian pakar hidrogeologi dan hidrokimia yang sudah ikut melakukan pengujian dan evaluasi hasil pengambilan sampel air sumur milik PT PRIA dan sumur milik warga di sekitar pabrik.
"Pakar hidrogeologi itu kita datangkan dari ITB, sementara pakar hidrokimianya kita datangkan dari UGM, mereka sudah teruji dan punya independensi yang kuat dalam melakukan kajian dan evaluasi," ujar Karliansyah.
Dirjen Pengendalian Pencemaran KLHK ini menegaskan, kementrian tidak ingin disalahkan siapapun juga dengan hasil uji laboratorium dan kajian yang akan disampaikan ke semua pihak yang berkepentingan.
"Hasil ini, jangan sampai membuat ada atau munculnya prasangka dan dugaan-dugaan baru yang tidak berdasar kajian, sehingga tidak bisa diterima dikemudian hari," paparnya.
Diterangkan Karliansyah, kalau selama ini ada laporan dan pengaduan, banyak warga di Desa Lakardowo yang mengalami gangguan penyakit kulit, itu disebabkan karena di kawasan itu merupakan daerah yang memiliki kandungan sulfur cukup tinggi secara alami dalam air tanah.
"Selain itu, banyaknya jamban dan kandang ternak yang lokasinya berdekatan dengan sumur warga, juga mendukung terjadinya penyebaran bakteri yang mengakibatkan gangguan kesehatan pada kulit," imbuh Karliansyah.





