90% Hasil Hutan Disumbangkan Oleh Hasil Hutan Bukan Kayu
Jumat, 7 November 2014 | 06:25 WIBMedia online-PASTVNEWS.COM,Berbicara kemanfaatan hutan selama ini hanya bertumpu pada satu macam hasil hutan, yakni berupa kayu, padahal banyak sekali manfaat serta sumber daya hutan yang bisa dimanfaatkan dan dihasilkan dari hutan.
Karena selain kayu, hasil lainnya ada juga hasil hutan bukan kayu (HHBK). HHBK sendiri merupakan seluruh hasil hutan yang berupa hayati dan non hayati ( selain barang tambang) yang dihasilkan oleh hutan kta.
HHBK ini dapat berupa barang, seperti getah-getahan, minyak atsiri, lemak, obat-obatan, herbal, rotan, bamboo hingga berupa jasa lingkungan yang berupa kepariwisataan alam, juga fungsi ekologi.
Direktur Jendral (Dirjen) BPDAS-PS, Hilman Nugroho mengemukakan selama ini hutan menghasilkan kayu sebanyak 10% saja. Sedangkan 90% disumbangkan oleh hasil hutan bukan kayu, antara lain bambu.
Oleh karenanya tidak mengherankan jika bambu menjadi penyumbang pendapatan negera terbesar. Untuk itu saya juga sangat berharap tahun 2015 HHBK dapat ditingkatkan.
Untuk meningkatkan hasil tersebut kuncinya ada pada strategi. Tentukan prioritas HHK yang akan digarap. Ada enam prioritas HHBK, yakni madu, sutra, gaharu, rotan, bambu serta nyamplung” jelas Hilman Nugroho pada seminar yang bertemakan Peran dan Strategi Kebijkan Pemanfaatan HHBK dalam Meningkatkan Daya Daya Guna Kawasan Hutan dan Temu Usaha di UC UGM.
Sedangkan kunci HHBK, sambung Hilman, adalah pemberdayaan masyarakat. Masyarakat harus dibimbing sehingga bisa masuk ke sector indistri mulai dari industri menengah hingga lanjutan. Masyarakat bisa diajari dengan metode ATM, amati, tiru dan modifikasi.
Sementara itu Bupati Sleman, Sri Purnomo dalam kesempatan tersebut mengatakan bambu banyak keunggulan. Antara lain dalam sehari bambu mampu tumbuh antara 3-9 cm, bambu juga memiliki daya serap karbon oksida yang tinggi serta mampu mensuplai udara dan cocok untuk mencegah pemanasan global.
Sri Purnomo menambahkan saat ini Sleman telah dijadikan sentra atau pusat pengembangan industry bambu nasional. Selain itu Sleman juga dijadikan penyangga utama atau tumpuan serapan air untuk kebutuhan air di Sleman sendiri, Kota Yogyakarta dan Bantul.
Ditambahkan Sigit Sunarta, selaku ketua panitya seminar, pengembangan dan pemanfaatan HHBK dewasa ini masih menghadapi beberapa terkendala. Kendala tersebut antara lain kesadaran geopolitik dan geostrategic SDH Indonesia belum menjadikan HHBK sebagai modal utama pembangunan kehutanan.
Kontribusi HHBK dipandang belum layak dalam upaya mensejahterakan rakyat anyak dan Negara masih mengalami kebuntuan dalam konsep, evaluasi praktek pemanfaatan HHBK maupun eksekusi pemgembangannya. Padahal kekayaan diversitasnya merupakan kekuatan uatama bagi penyediaan green goods product maupun service product.
Selain kegiatan seminar dan temu usaha, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penggukuhan pengurus Asosiasi Bambu Sleman Sembada yang diketuai Eko Wiryono, oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo. Dimana asosiasi ini nantinya akan mengembangkan industri bambu. anjar





