Kembali Ke Index Video


Kemacetan Menjadi Salah Satu Pemicu Ke Engganan Wisatawan Ke Obyek Wisata

Jumat, 11 September 2015 | 15:08 WIB
Dibaca: 2147
Kemacetan Menjadi Salah Satu Pemicu Ke Engganan Wisatawan Ke Obyek Wisata
Kiri Ketut suartana dan Prof Marsono SU, ketua Prodi Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Sleman-PASTVNEWS.COM, wisata berkembang pesat namun terkadang tidak di imbangi dengan srana yang memadai. Pengerjaan infrastruktur jalan yang seringkali hanya bongkar pasang sehingga mengakibatkan kemacetan menjadi salah satu faktor yang dihindari oleh wisatawan.

Maksud hati ingin mengurai kemacetan dengan harapan lalu lintas dapat berjalan dengan lancar. Akan tetapi kenyataan di lapangan yang terjadi justru memindahkan muara kemacetan ke tempat lain.

Parahnya lagi, pengerjaan jalan yang hanya bongkar pasang juga menjadi pemicu terjadi kemacetan. Sehingga pembangunan tersebut sebenarnya hanya pembangunan ‘semu’. Dan dampak dari kemacetan tersebut mengakibatkan keengganan wisatawan untuk berkunjung.

“Banyak calon wisatawan yang membatalkan berkunjung ke Yogyakarta karena melihat kondisi beberapa ruas jalan di Yogyakarta yang macet. Dengan ada kemacetan wisatawan merasa kurang nyaman” ungkap Prof Marsono SU, ketua Prodi Pariwisata Fakultas Ilmu BUdaya UGM, dalam seminar Pengelolaan Bisnis Pariwisata dan Perhotelan Dalam Situasi Persaingan Global, yang digelar Akademi Pariwisata (Akpar) Buana Wisata Yogyakarta.

Menurut Marsono, kemacetan membuat ketidak-nyamanan wisatawan yang tengah menikmati keramahan suatu daerah. Karena adanya kemacetan juga akan menambahkan beaya pengeluaran mereka.

 Apalagi Yogyakarta saat ini bukan jalur penerbangan langsung, sehingga wisatawan yang hendak ke Yogyakarta pasti akan mempertimbangkan budget yang harus dikeluarkan.

“Jika kita membandingkan dengan Thailand, jalan-jalan di sana sangat mendukung kelancaran wisatawan. Bahkan, Singapura yang merupakan negara kecil pun mampu memberi kenyamanan akses transportasi setiap wisatawan. Oleh karenanya kunjungan wisatawan di ke dua negara selalu tinggi” tambahnya.

Sedangkan Willy dari Asita DIY menyoroti tidak adanya jalur penerbangan langsung juga menjadi factor keengganan wisatawan berkunjung ke Yogyakarta. Karena penerbangan dua kali bisa dipastikan budget yang dikeluarkan akan semakin besar.

Kepada sejumlah awak media dan pastvnews.com, Willy juga mengatakan dengan penerbangan dua kali, wisatawan akan lebih memilih ke Eropa dari pada ke Yogyakarta.

Dan tujuan wisatanya ke Indonesia mereka pasti akan memilih Bali yang memiliki penerbanngan langsung dan biayanya lebih murah. Oleh karenanya bandara juga menjadi kata kunci dalam menggaet wisatawan.

Sementara itu Ketua Dewan Pembina Akademi Pariwisata ( Akpar) Buana Wisata Yogyakarta, Dr I Ketut Putra Suarthana MM mengatakan Kementrian Pariwisata pada tahun 2019 menarget jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 20 juta.

Sementara pada tahun lalu jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia mencapai 9,7 juta. Dan menghadapi diberlakukannnya MEA pada akhir 2015 menuntut pelaku wisata harus mampu bekerja secara professional.

Lebih jauh Ketut Putra Suarthana menjelaskan pelaku wisata juga harus mempersiapkan tenaga kerja di bidang pariwisata yang siap berkompetisi dengan pelaku wisata asing.

Oleh karena itu diharapkan semua pelaku wisata nantinya harus yang memiliki sertifikat kompetensi. Dan sebanyak 17 ribu tenaga kerja pariwisata hingga akhir 2018 nantinya sudah memegang sertifikat ini.

Desa Wisata Kurangi Kemiskinan

Ketut Putra Suarthana menambahkan untuk pengembangan pariwisata,di Indonesia dan utamanya di DIY, perlu dikembangkan desa-desa wisata.

Karena dengan mengembangkan desa wisata nantinya akan dapat mengurangi penggangguran hingga pada akhirnya dapat menekan angka kemiskinan yang terjadi di desa-desa. Karena selama ini kantong kemiskinan masih terjadi di desa.

“Pemerintah telah mendorong pengembangan desa wisata dengan menyediakan dana sebesar Rp 123 miliar. Harapannya, desa akan berkembang, tidak penggangguran dan pembangunan dapat berjalan merata.

Dengan pengembangan desa wisata ini menjadi salah satu jalan untuk mengurai angka kemiskinan” pungkasnya. anjar




Video Terkait


2 Komentar
parjo
Minggu, 27 Desember 2015 | 01:24 WIB
dah dari dulu memang oknum2 terkait di kota jogja ini seneng bongkar pasang jalan, jalan yg sudah baik belum lama di aspal eee di gergaji di bligo. pengembalianya aja terkesan asal2an. gitu aja pimpinannya pura2 gak tahu. mbok yo mikir kalau seperti itu membuang buang anggaran yg besar pajak dari rakyat lo itu dong ra.... cerdas dikit dong. mbok piye mikir sitek gawe proyek yg bisa berkesinambungan. kalau mau pasang kabel telpon, pipa air limbah,kabl listrik tampa merusak jalan rak yo iso to. gawe trowongan bawah tanah seng gede rak yo iso. aku dong karepmu ki nek gawe proyek seng iso ngono kuwi ndak kowe do raiso gawe proyek nggo golek duwet gede nggo ngebak i sak mu to ,hooh hooh to dong wae, duasar ra nde isen
Balas
parjo
Minggu, 27 Desember 2015 | 01:24 WIB
dah dari dulu memang oknum2 terkait di kota jogja ini seneng bongkar pasang jalan, jalan yg sudah baik belum lama di aspal eee di gergaji di bligo. pengembalianya aja terkesan asal2an. gitu aja pimpinannya pura2 gak tahu. mbok yo mikir kalau seperti itu membuang buang anggaran yg besar pajak dari rakyat lo itu dong ra.... cerdas dikit dong. mbok piye mikir sitek gawe proyek yg bisa berkesinambungan. kalau mau pasang kabel telpon, pipa air limbah,kabl listrik tampa merusak jalan rak yo iso to. gawe trowongan bawah tanah seng gede rak yo iso. aku dong karepmu ki nek gawe proyek seng iso ngono kuwi ndak kowe do raiso gawe proyek nggo golek duwet gede nggo ngebak i sak mu to ,hooh hooh to dong wae, duasar ra nde isen
Balas

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi