Kembali Ke Index Video


Angka Bunuh diri Di Indonesia peringkat ke 9 Dunia “Menyamai Jepang

Kamis, 27 Maret 2014 | 18:29 WIB
Dibaca: 2568
Angka Bunuh diri Di Indonesia peringkat ke 9 Dunia “Menyamai Jepang
para nara sumber pada acara seminar bunuh diri

Media online PAS TV NEWS.COM, Tingginya angka bunuh diri di Indonesia mengundang keprihatinan yang besar baik masyarakat umum, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga kalangan medis, Apalagi pada tahun 2010 angka bunuh diri di Indonesia menempati peringkat 9 dunia, menyamai Jepang.

Dan khusus di Yogyakarta, kasus bunuh diri terbesar terjadi di Gunungkidul yang mencapai angka sangat tinggi, dengan 9 kasus bunuh diri untuk setiap 100.000 orang,Sedangkan secara nasional angka bunuh diri di Indonesia rata-rata 1,6-1,8 orang per 100.000 penduduk.

Menurut Guru Besar Bidang Psikiatri UNS Solo, Prof Dr dr Syamsul Hadi terdapat beberapa aspek penyebab bunuh diri, antara lain aspek genetika,dimana genentika ini merupakan gen pembawa sifat bunuh diri.

Selain itu karena aspek budaya yang menyangkut budaya kekeluargaan, distrosi budaya hingga kepercayaan dan transisi budaya.

Aspek lainnya, lanjut Syamsul, yakni aspek social ekonomi serta aspek psikologi-psikiatri, yang menyangkut  gangguan jiwa seperti depresi, skizofrenia dan kepribadian. Dan orang yang sangat memiliki risiko untuk melakukan bunuh diri adalah orang dengan Gangguan Bipolar (GB).

“Orang dengan GB memiliki risiko besar untuk bunuh diri jika tidak mendapatkan pengobatan. Di samping  itu beberapa factor risiko untuk bunuh diri pada penyandang GB penting untuk diwaspadai, seperti memiliki gangguan penyalahgunaan mental dan subtansi, riwayat keluarga gangguan mental serta penyalahgunaan zat, telah mencoba bunuh diri sebelumnya maupun memiliki anggota keluarga atau teman yang telah mencoba bunuh diri” jelas Syamsul pada seminar media dengan tema meningkatkan kepedulian terhadap Gangguan Bipolar (GB) di Indonesia.

Sementara itu psikiater UGM, Carla R Machira mengatakan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah tindakan bunuh diri.

Upaya tersebut meliputi pencegahan primer, sekunder dan tersier.  Pencegahan primer merupakan tindakan pemcegahan sebelum orang mempunyai niat bunuh diri dengan memperhatikan factor-faktor risikonya.

Sedang pencegahansekunder adalah deteksi dini dan terapi yang tepat pada orang yang telah melakukan percobaan bunuh diri. Dan pencegahan tersier yakni tindakan untuk mencegah berulangnya percobaan bunuh diri.

“Orang yang berniat bunuh diri dapat kita kenali dengan tanda merasa sedih, sering menangis, anxietas dan gelisah, perubahan mood (senang berlebihan sampai sedih berlebihan), perokok dan peminum alcohol berat serta gangguan tidur yang menetap dan berulang” sambung Carla.

Lebih jauh Carla memaparkan setiap penyandang GB dapat diobati. Pengobatan yang pertama dengan intervensi  farmakologik, yaitu pemberian obat-obatan golongan mood stabilizer.

Kedua, intervensi non farmakologik berupa konseling serta psikoedukasi. Yakni pemberian psikoterapi dan pengaturan aktifitas sehari-hari dan pola hidup serta dukungan social dari lingkungan sekitar. anjar




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi