Kembali Ke Index Video


Akibat Inefisiensi Harga Beras Di Indonesia Termahal Di Asean

Minggu, 28 Februari 2016 | 00:48 WIB
Dibaca: 1865
Akibat Inefisiensi Harga Beras Di Indonesia Termahal Di Asean
diskusi panel bustanul arifin tentang beras

Media online PASTVNEWS.COM, Sungguh sebuah ironi, sebagai negara agraris namun harga beras di Indonesia termahal dibandingkan negara-negara Asean. Pengamat Ekonomi Pertanian, yang juga merupakan Dewan Pendiri dan Ekonom Senior INDEF serta Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Profesor Bustanul Arifin mengatakan dari data yang dimilikinya, harga beras di Indonesia masih diatas angka Rp 12.000,- perkilogramnya.

 Sementara untuk harga beras kelas meduim berada di kisaran RP 10.000,-/kg. Sehingga dengan kondisi harga tersebut jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya yang juga menjadi produsen beras.

Menurutnya, salah satu penyebab mahalnya harga beras di Indonesia karena adanya inefisiensi dalam bidang pertanian. Dalam pandangannya pemicu atau penyebab mahalnya harga beras di Indonesia disebabkan karena biaya ekonomi yang tinggi atau sering disebut inefisiensi yang ditandai dengan adanya kebocoran.

 

NARA SUMBER TERKIAT BERAS INDONESIA MAHAL

Lebih jauh Bustanul menambahkan negara-negara produsen dan pemasok beras di ASEAN, seperti Thailand dan Vietnam bahkan India, harga beras di ketiga negara ini juah lebih murah dibandingkan dengan beras di Indonesia. harha beras mereka rata-rata US$ 350 atau sekitar RP 4,9 juta sampai dengan US$ 400 (sekitar Rp 5,6 juta) perton. Dan jikalau dikalikan dengan Rp 14.000,- serta ditambah ongkos kirim, maka harga mereka masih berkisar di angka Rp 6.000an perkilogramnya.

”Tidak mengherankan kalau beras dari ketiga negara ini terus mengalir deras ke Indonesia dikarenakan harga meraka lebih murah atau rendah. Sehingga upaya menolak untuk menolak impor tentunya akan sia-sia karena Inodensia menjadi pasar potensial dan menarik.

Dan karena impor ini pula produk Indonesia tidak dapat bersaing” sambung Bustanul dalam Seminar Nasional dengan tema Desain Kebijakan Perberasan dalam Rangka Mendorong Peningkatan Produksi Padi, Daya Saing Usaha Tani Padi dan Kesejahteraan Petani, di hotel Tentrem Yogyakarta (23/2) silam.

Sebagai negara yang besar, di dukung tanah pertanian yang luas semestinya kita harus mampu mempenuihi kebutuhan berasnya sendiri dan kalau perlu harus bisa mengekspor. Karena harusnya kita warga Indonesia tidak rela, negara sebesar ini hanya dijadikan pasar oleh mereka.

Guna mewujudkan hal tersebut, sambungnya, harus ada penataan di lapisan bawah sehingga nantinya ada efisiensi. Di samping itu juga perlu ada peningkatan produktifitas sehingga kesejahteraan petani terangkat. Dan kebocoran serta inefisiensi, salah satunya pupuk harus ditekan di mana selama ini meski ada peningkatan subsidi pupuk akan tetapi tingkat kebocoran nilainya selalu sama, besar.

Subsidi pupuk pada tahun 2015 sebanyak RP 39,5  triliun, harusnya ongkos produksi turun. Akan tetapi yang terjadi nyatanya harga pupuk tetap mahan dan pasar sering terjadi kelangkaan. Harga pupuk pun seharusnya Rp 1.950,- perkilogram namun yang ada bisa mencapai Rp 2.200,- per kgnya. anjar




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi