Kembali Ke Index Video


Mengenang Semangat Pengorbanan Adisutjipto di Monumen Ngoto

Kamis, 22 Oktober 2015 | 12:17 WIB
Dibaca: 3402
Mengenang Semangat Pengorbanan Adisutjipto di Monumen Ngoto
kapal udara/pesawat yang patah dalam mosium ngoto

Jogjakarta-pastvnews.com, Nilai hakiki dari Monumen Perjuangan TNI AU, hendaknya dapat menumbuhkan motivasi untuk meneruskanperjuangan tanpa mengenal akhir. Generasi pendahulu berjuang untuk generasi sekarang, dan perjuangan generasi sekarang untuk generasi yang akan datang.

Sepenggal pesan tersebut ditorehkan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Hanafie Asnan di salah satu sudut Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto Jatiarang Tamanan Banguntapan.

Monumen yang dibangun pada 1 Maret 1948 ini yang dimaksudkan untuk mengenang semangat juang, semangat berbakti, pengorbanan serta kepahlawanan dari Marsekal Muda TNI (Anumerta) Agustinus Adisutjipto,

Marsekal Muda TNI (Anumerta) Prof Dr Abdulrachman Saleh serta Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo ini,

diharapkan dapat membangkitkan nasionalisme di generasi muda saat ini untuk terus berjuang dan berbakti membangun bangsa.

Dengan memahami perjuangan para pahlawan yang gugur saat bertempur melawan Belanda, generasi muda  sebagai  penerus dan pemegang tongkat estapet dapat mencontoh semangat para pahlawan dalam mempertahankan kedaulatan negara.

Monumen Perjuangan TNI AU, yang dulunya bernama Monumen Ngoto merupakan monument memberi gambaran serta menceritakan saat pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpangi Komodor Muda Udara ( Kolonel) Agustinus Adisutjipto.

Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, Opsir Muda Udara I ( Lettu) Adisumarmo dengan pilot Alexander Noel dari Australia dengan co-pilot Roy Hazelhurt (Inggris), Juru Mesin Bhidaram, Konsul dagang RI di Malaysia, Zainal Arifin serta Ny Noel Constantine,

terbakar karena diserang tentara Belanda. ( pangkat yang tertulis di sini sebelum mereka mendapat tambahan kenaikan pangkat setelah gugur)

Pesawat dengan membawa misi kemanusiaan, yang berangkat dari Singapura dengan membawa obat-obatan bantuan Palang Merah Malaya untuk Indonesia tersebut, sebelum mendarat di Pangkalan Udara Maguwo, diserang dua pesawat Kitty Hawk Belanda. Akibatnya, pesawat Dakota VT-CLA tersebut terbakar dan jatuh di kawasan Ngoto.

Direnovasi pada 1981                  

Pada medio Juli 1981, Monumen Ngoto dipugar oleh Kasau Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi.  Di areal tanah seluas 9.473 m2, proses renovasi dilakukan terhadap seluruh bangunan serta dilengkapi fasiltas pendukung. Tugu Monumen yang semula setinggi 4,5 meter dinaikam menjadi 7 meter.

Sedangkan patung Garuda yang  berada di atas Tugu Monumen, yang terbuat dari tembaga, rentang sayapnya dibuat selebar 2 meter dengan warna kuning emas.

Dan berdasarkan surat keputusan Kasau tertanggal 27 Juli 2000, Monumen Ngoto kemudian diresmikan berganti nama menjadi Monumen Perjuangan.Monumen yang terletak di pinggir perkampungan Ngoto ini dalam pembangunannya kembali Monumen dilengkapi dengan relief dan display foto yang mengambarkan tahap-tahap peristiwa penyerangan TNI di Salatiga, Semarang dan Ambarawa. Selain itu terdapat juga relief perjalanan pesawat Dakota VT-CLA yang terbakar dan jatuh di Ngoto.

Sedangkan badan pesawat yang terdapat di pintu masuk Monumen merupakan replica pesawat Dakota VT-CLA, dimaksudkan untuk memberi gambaran kondisi pesawat saat itu.

Dibuka sepanjang hari 

Tidak seperti kebanyakan monumen yang lain, Monemun Perjuangan TNI AU Ngoto dibuka sepanjang hari.

Karena saat-saat tertentu biasanya ada keluarga pahlawan datang berziarah. Dan masyarakat dapat berkunjung dari pagi hingga sore hari. Untuk berkunjung di Monemen Perjuangan TNI AU, tidak dipunggut tiket masuk alias gratis. anjar




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi