Kembali Ke Index Video


Desa Samberejo, Kain Tenun Lurik Perlu dilirik

Rabu, 21 Desember 2016 | 11:27 WIB
Dibaca: 1103
Desa Samberejo, Kain Tenun Lurik Perlu dilirik
DOK FOTO GAPURO SAMBIREJO NGAWEN

Ngawen, (Pastvnews.com) – Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen mempunyai produk unggulan yang perlu dikembangkan supaya menjadi produk unggulan iconya Gunungkidul.

Pasalnya pengrajin kain tenun lurik dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) ini sudah ratusan tahun ditekuni di desa ini, hampir semua dusun ada penggrajin tenun kain lurik , tetapi yang paling banyak di Dusun Grogol, Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul.

Seperti yang diungkapkan oleh Sanem, 56thn, warga Sambeng IV, mengatakan kalau ia melakukan pekerjaan menenun sudah sejak kecil hanya karena terbentur dana ibu yang usianya hampir kepala enam ini hanya buruh menenun.

“Saya melakukan pekerjaan ini sudah sejak kecil, tetapi hanya buruh karena tidak ada modal untuk mandiri, sekarangpun saya hanya mengerjakan punya orang, mesin ini punya Bu Sanikem, Sadakan, Grogol, nanti kalau sudah jadi diambil kesana,” jelas Sanem yang mengerjakan pekerjaan tenun dirumahnya.

Pantauan dilapangan, para pengrajin tenun kain lurik ini rata-rata ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah tua, karena mungkin meneruskan pekerjaan dari orang tuanya dulu. Pengrajin tenun kain lurik dengan ATBM ini sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu.

Kades Samberejo, Yuliasih Dwimartini, Sp, berharap kepada pemerintah mau melirik para generasi muda supaya ada pembinaan, sehingga para generasi muda bisa melanjutkan sebagi regenerasi, karena sebenarnya ini merupakan salah satu peluang usaha yang menjanjikan jika dipasarkan dengan baik.

Syukur-syukur pemerintah selain memberikan pembinaan kepada para generasi muda juga memberikan bantuan stimulant alat dan permodalan supaya bisa menekuni kerajinan ATBM tersebut.

“Syukur-syukur pemerintah selain memberikan pembinaan kepada para generasi muda juga mau memberikan bantuan stimulant alat dan permodalan supaya bisa menekuni kerajinan ATBM tersebut,” harap Yuliasih.

Sehingga dengan demikian, lanjutnya, kerajinan ini bisa berkembang dengan baik dan bisa menjadi salah satu ikon produk unggulan desa, yang bisa meningkatkan ekonomi warga masyarakat, dalam rangka menyongsong Desa Samberejo sebagai desa menyangga wisata di Gunungkidul.

Namun demikian Ia juga tidak menampik kalau pemerintah pernah mendampingi pelatihan kepada para pengrajin tenun kain lurik ini, tetapi kendalanya adalah bantuan modal terutama untuk pengadaan ATBM manual yang sesuai dengan standart dan alat-alat yang lain.  Kalau ada suntikan modal karena permintaan order barang  banyak maka  jumlah pengrajin bisa ditingkatkan, untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

“kendalanya saat ini adalah bantuan modal yang kurang terutama untuk pengadaan ATBM manual yang sesuai dengan standart dan alat-alat yang lain, kalau ada suntikan modal, karena permintaan order barang banyak maka jumlah pengrajin bisa ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen,”jelasnya.

Menurutnya selain itu  perlu ada jaringan kemitraan dengan beberapa pihak sebagai sponsor dan pendampingan agar produk dari pengrajin ini bisa semakin inovatif dalam pengembangan produk-produk kain lurik tersebut, sehingga tidak kalah  bersaing dengan produk luar dan bisa menjadi produk unggulan.

“Kalau ada sponsor yang mendampingi, produknya bisa semakin inovatif, sehingga tidak kalah bersaing dengan produk luar dan bisa menjadi produk unggulan, pungkasnya.

Pemerintah perlu melirik karya dari putra-putri Gunungkidul ini yang sudah berjalan ratusan tahun, mungkin dengan polesan dan sentuhan pemerintah, bisa menambah semangat dan antusiasme para pengrajin yang sudah berjuang bertahun-tahun untuk mempersembahkan untuk bumi Gunungkidul yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. W. Joko Narendro.




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi