Majâng Untingan Ekspresi Musikal Caca’an Muncar Banyuwangi Warisan Budaya Bahari Muncar Penuh Filosofi
Minggu, 24 Mei 2026 | 18:27 WIBBanyuwangi Jawa Timur - Media Pastvnews.com, warta daerah seni budaya, Kecamatan Muncar yang dikenal luas sebagai sentra perikanan terbesar di Jawa Timur, ternyata juga menyimpan kekayaan seni budaya luar biasa bernama Majâng Untingan.
Sebagai ekspresi budaya asli masyarakat nelayan setempat, seni ini memadukan unsur musik, nyanyian dan gerakan tubuh yang lahir langsung dari kearifan lokal.
Seni ini menjadi bukti nyata hubungan harmonis dan erat antara manusia dengan laut, yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad hingga kini.
Secara makna nama, " Majâng " berarti kegiatan nelayan yang hendak pergi ke tengah laut untuk mencari ikan. Sedangkan "Untingan"
merupakan aktivitas nelayan saat menarik jaring dengan melantunkan teriakan-teriakan spontan sebagai upaya menyatukan semangat kerja di tengah laut. Penggabungan kedua istilah tersebut dimaknai pengkarya sebagai representasi kehidupan nelayan yang penuh semangat,
perjuangan dan kerja kolektif dalam menjalani aktivitas maritimnya. Seni ini lahir sebagai wadah ekspresi rasa; wujud syukur atas karunia alam saat hasil tangkapan melimpah, sekaligus sarana doa dan penenang hati saat menghadapi ganasnya ombak serta cuaca buruk di tengah samudra.
Jiwa dan napas utama dari pertunjukan ini adalah elemen yang disebut Cacca’an, yakni nyanyian kerja nelayan yang diwariskan secara lisan dari mulut ke mulut tanpa naskah tertulis. Lirik-liriknya sarat makna mendalam, berisi pesan moral,
kisah perjuangan hidup, puisi keindahan alam, hingga petuah bijak tentang menjaga kelestarian lingkungan. Semuanya dinyanyikan dengan dialek khas, perpaduan unik antara bahasa Osing dan bahasa Madura pesisir muncar yang kental serta mudah dipahami masyarakat setempat.
Musik pengiringnya pun dirancang sederhana namun bertenaga kuat, memanfaatkan alat-alat yang ada di lingkungan sekitar, seperti terbang Kuntulan,
Rampak Reong, kendang banyuwangi, biola dan memanfatkan intrumen non musikal seperti timba, jating, drum nelayan dan alat kerja nelayan lainya. Iramanya sangat dinamis, mampu berubah dari ritme pelan dan tenang yang menggambarkan permukaan laut damai.
Menjadi tempo cepat dan riuh seolah menceritakan pertarungan melawan badai besar. Musik ini diselaraskan sempurna dengan gerakan tubuh para penampil yang bergerak kompak, berbaris rapi dan saling beriringan.
Lebih dari sekadar hiburan, Majâng Untingan mengandung filosofi kehidupan yang sangat dalam, terutama nilai kerja sama,
kebersamaan dan persatuan kolektif kerja nelayan. Bagi masyarakat nelayan, pekerjaan berat di laut mustahil dilakukan sendirian kekuatan dan keberhasilan hanya bisa lahir dari persatuan dan kesatuan hati.
Prinsip sosial inilah yang diterjemahkan secara indah ke dalam bentuk seni pertunjukan etnomusikologi perfotmatif.
Selain itu, di setiap syairnya juga terselip pesan morat terhadap pelestarian alam, mengingatkan agar tidak merusak atau mengambil kekayaan laut secara berlebihan, karena laut adalah saudara dan sumber kehidupan utama bagi masyarakat luas.
Di tengah tantangan modernisasi dan masuknya budaya populer yang mulai menggerus minat generasi muda, berbagai upaya pelestarian terus digalakkan. Mulai dari pendokumentasian sejarah dan seni.
Pengenalan kembali ke kurikulum sekolah, hingga rutin menampilkannya di berbagai acara adat maupun festival budaya daerah dan nasional.
Karya Seni pertunjukan Majâng Untingan : Ekspresi Musikal Cacca’an Nelayan Muncar di Banyuwangi adalah bukti kecerdasan Achzana Ilhamy, S.Sn untuk merespon warisan nenek moyang,
Sebuah warisan agung yang mengajarkan kita untuk hidup bersatu, selalu bersyukur dan senantiasa menghormati alam pemberi kehidupan. Penulis /Pengkarya (Achzana Ilhamy)

Video Terkait
- Masa Pandemi Warga Padukuhan Gunungasem Ngoro-oro Patuk Masih Eksis Gelar Rasulan
- Masa mandemi new normal penghobi burung sudah banyak turun ke lomba
- Perundingan Bipartit PT.SRR Sementara Buntu Karyawan Minta Pesangon Normal 1, 4 Milyar ?
- Asmindo DIY Inisiasi Gelar Pameran Secara Virtual Seluruh Indonesia
- Peternak perkutut masih eksis walaupun kondisi negara di guncang virus covid 19
- Dampak Akibat Covid 19 Lama Industri Rambak Segoroyoso Terancam Bangkrut
- Relawan Bacabup Ini Kunjungi Warga Ringankan Beban
- KH Fahmi Basya 'Seluruh Dunia Menyatakan Perang Melawan Virus' Perang Dunia III
- Hampir 2 Pekan Jalan Jogja Wonosari - Patuk Gunungkidul Lengang
- Gerakan Penyemprotan Disinfektan Pemdes Terbah Patuk Libatkan Berbagai Element
- Pasangan Balon Cawub -Bacabup Ini Siap Bertarung Dikancah Pemilukada 2020
- Biawak akan serang petugas pembersih sedimen di tangkap
- Relawan "NO-TO" Lakukan Upaya Pemberantasan Covid -19
- Dwiyono Kades Terpilih Desa Kedungpoh Nglipar Menang Raih 1542 Suara
- Telaga Towati Tepus Gunungkidul Bebas Dari Polusi Udara Jahat.
- Pesona Wisata Beton Ponjong Gunungkidul
- YOGJA YOUTH FARMING" BEROPSESI JADI LABORAT PELESTARIAN ALAM
- IMOGIRI BERTEKAD LESTARIKAN SENI DAN BUDAYA WISATA
- Antisipasi kenakalan siswa SMPN 2 Jetis Bantul Jalin Komunikasi Dengan Wali Murid
- Cakades Joko Purnomo Kedungkeris Nglipar disambut meriah warga
- Bunga amarilis primadona yang bisa dikembangan diberbagai wilayah
- Angin Puting Beliung Menerjang SDN Waduk Sedikitnya 8 Rumah Warga Rusak
- Budi Oetomo Prasetyo Ponjong Gunungkidul Jabarkan Ide Nawa Karsa Manunggaling Cipta
- Jalan menuju Wisata Ke Pesisir Selatan Bantul Mulus
- Bantuan Beras Meringankan Beban Santri Dan Pengelola Ponpes
- Budi Oetomo Gunungkidul ‘Menjawab Panelis ‘Restrukturisasi Birokrasi Dan APBD Harus
- Inilah 11 Wajah Bacabup Gunungkidul 2019 Via Nasdem 'Siapakah Yang Pantas ?
- Nasdem Menjaring 11 Bacalon Bupati Gunungkidul
- Lulusan Akademi Komunitas Seni Budaya di Wisuda Sultan
- Inilah Obyek Pendidikan Semburan Air Melengkung Taman Pintar Yogya
- Zaman Kolonial Jepang Pakaian Saja Susah Baju Yang Ada Goni Seperti Ini
- Ikut Senam Sehat 2019 HUT Golkar Bantul 2 Warga Raih Sapi dan Motor
- Menikmati Semilir Angin Di Embung Merdeka Bantul'

