Kembali Ke Index Video


Gawat Nich Penyakit Kencing Tikus Di Gunungkidul Kembali Telan Korban

Sabtu, 22 April 2017 | 07:46 WIB
Dibaca: 459
Gawat Nich Penyakit Kencing Tikus Di Gunungkidul Kembali Telan Korban
dr. Pudyastuti, Kepala Puskesmas Ngawen

Ngawen-Pastvnews.com, gawat tikus penebar virus membuat gundah warga Gunungkidul, ya kabar yang satu ini merupakan kabar kesehatan, salah satu penyakit Leptospirosis atau dikenal dengan penyakit kencing tikus ‘trend menjadi pembicaraan warga dan para dokter.

Leptospirosis  yang memakan korban bahkan juga masih menghantui di Kabupaten  Gunungkidul. Informasi yang didapat oleh awak media pastvnews.com, Kamis, 20/04/2017 2 orang warga Ngawen atas nama Slamet, warga Desa Jurangjero dan Suwito Rejo Desa Watusigar, Ngawen  meninggal dunia dugaan terkena penyakit yang di sebabkan oleh tikus tersebut.

Hal ini dibenarkan oleh Saliman55, warga Dusun Watusigar, Desa Watusigar yang mana rumahnya tidak jauh dari rumah korban, Suwito rejo.

Kabarnya  memang Suwitorejo terkena penyakit air kencing tikus pak, bahkan sebulan yang lalu Parjianto yang termasuk warga Dusun Watusigar juga meninggal, dan itu hanya beda RT saja,” tutur Saliman. Untuk korban Slamet warga Jurangjero yang juga meninggal dihari yang sama, saliman mendapatkan informasi dari warga yang melayat ditempat alm. Suwito rejo.

Diceritakan Saliman, bahwa Suwito rejo, sebenarnya sakitnya hanya 2 hari saja, pada waktu itu langsung dibawa ke klinik yang berada diwilayah Ngawen, tetapi karena tidak sanggup langsung dirujuk ke RS Nurohmah. Sampai di RS Nurohmah Gading, ternyata tidak sanggup dan langsung diberikan rujukan ke RS Sarjito. Belum sampai di rumah sakit yang dituju, Suwito rejo meninggal dijalan.

Belum sampai dirumah sakit, baru sampai di jembatan layang Janti, sudah meninggal,” terang Saliman. Ia juga mengatakan selain korban meninggal dunia, ada yang masih dirawat dirumah sakit  Kelor di daerah Karangmojo atas nama Siswanto.

“Siswanto ini juga mengalami serangan penyakit kencing tikus ini, tetapi tidak meninggal,” tutupnya. Sementara itu Kepala Puskesmas Kecamatan Ngawen, dr. Pudyastuti, terkait kematian dua orang warga Ngawen belum mendapat laporan secara resmi bahwa itu terkena penyakit leptospirosis atau bukan.

“Sampai saat ini saya belum mendapatkan laporan tentang warga yang meninggal, petugas kami dilapangan juga sudah mengechek namun demikian belum ada laporan resmi dari pihak rumah sakit yang manangani bahwa korban meninggal itu terkena penyakit leptospirosis atau bukan,” jelasnya, , Jum’at, 21/04/2017 siang.

Disampaikannya bahwa selama tahun 2017 yang terserang penyakit leptospirosis berjumlah 4 orang dan itupun bisa ditangani semua walaupun ada yang sempat cuci darah Selama tahun 2017 ada 4 kasus yang positif, itupun bisa ditangani semua, walaupun ada yang sampai cuci darah,” jelasnya.

Ia mengatakan kalau wilayah Ngawen sudah ditempatkan petugas pembina wilayah dilapangan untuk mengantisipasi dan memberikan edukasi serta penyuluhan dimasing-masing dusun, terkait masalah leptospirosis ini. Kita sudah tempatkan petugas dilapangan untuk membina dimasing-masing dusun,”tutupnya.

Hingga kini menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul sudah tercatat sebanyak 50 kasus Leptospirosis yang tersebar di tujuh wilayah Kecamatan di Gunungkidul. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Zoonensis, Dinas Kesehatan Gunungkidul Yudo Hendratmo.

Penyebaran Leptospirosis tersebar di tujuh kecamatan, meliputi Kecamatan Patuk, Gedangsari, Ngilpar, Ngawen, Semanu, Ponjong dan Semin. Dinas Kesehatan terus berupaya melakukan antisipasi terhadap tingginya penyebaran penyakit yang menular dari hewan tersebut. Seperti menyebarkan surat edaran kewaspadaan leptospirosis ke tujuh wilayah kecamatan yang terdampak.

"Kasus Leptospirosis masih tinggi selama beberapa waktu ini. Untuk itu kami kirimkan surat edaran tentang kewaspadaan leptospirosis ke kecamatan, puskesmas hingga desa," jelas Yudo, Kamis (20/4/2017).

Yang mana surat edaran yang dikirimkan tersebut, pihaknya meminta kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan selain agar tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta mencegah penularan penyakit tersebut, pungkasnya. ‘Joko Narendro.




Video Terkait


Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi